Beranda > Uncategorized > Ayam Hutan, Rusa dan Elang Jawa

Ayam Hutan, Rusa dan Elang Jawa

Beberapa bulan yang lalu, salah seorang teman saya membeli seekor kera anakan dari pemburu. Naas, beberapa hari kemudian kera kecil itu mati karena tak kuat menahan luka tembak di tubuhnya. Lalu teman saya membeli anakan kera kembali, kali ini 2 ekor dan tetap masih anakan. Saya sungguh tertarik dengan kera anakan tersebut dan ingin sekali membelinya. Dalam keyakinan saya, karena masih anakan maka bisa dengan gampang kera itu untuk dijinakkan agar bersahabat dengan pemiliknya. Maka hari senin kemarin (4 Juni 2012) saya kembali berkunjung ke rumahnya. Namun rupanya saya belum beruntung. Kedua kera anakan tersebut telah terjual dan piaraannya berganti dengan seekor elang jawa serta 4 ekor anak ayam hutan.

Elang Jawa, kebanyakan masyarakat mengenalnya sebagai BIDO. Saat saya masih tinggal di Bantul, bido lebih saya kenal sebagai burung pemakan tawon ndas dan lebah madu. Suaranya menciat kencang membelah angkasa. Lalu tiba-tiba saya teringat waktu berkunjung ke museum ronggo warsito di semarang. Di museum tersebut ada seekor elang jawa yang di awetkan. Lalu pemandu bercerita bahwa elang jawa tersebut berasal dari pegunungan dieng, yang kini tinggal sekitar 5 ekor. Sungguh disayangkan.

Saat melihat betapa gagah elang jawa di rumah teman saya tersebut, tibatiba saja saya berkeinginan untuk membelinya. namun hal itu saya urungkan. Pikir saya, kasihan sekali burung langka ini, karena hanya seekor. Berbeda misal, ada dua ekor (sepasang). Jika sepasang mungkin saya berani membelinya. Dengan sepasang, ada kemungkinan untuk bisa ditangkarkan asal dipelihara dengan benar. Ah, hingga saat ini aku belum bisa berbuat banyak untuk membantu melestarikan burung langka itu.

Lalu ayam hutan. Binatang yang termasuk bangsa burung ini cukup mudah untuk didapatkan. Sekarang saja saya sudah punya 2 pasang di rumah. Semoga ayam hutanku cepat berkembang biak. Musim ketigo seperti bulan-bulan ini (mei-oktober) adalah saat yang tepat untuk berkembang biak bagi burung-burungan.

Tentang ayam hutanku, yang sepasang masih baru. Beberapa minggu yang lalu saya beli dari seorang pemburu. Maka tak kaget, mata ayam hutan jantanku hilang satu. Tak masalah, yang penting tetap sehat dan siap kimpoi. Di beberapa tempat di pulau jawa sebenarnya masih banyak ayam hutan liar. Burung yang bersuara indah, berbulu cantuk dan berekor panjang menarik ini sungguh kasihan sekali. Menurut pemburu itu, konon memburu ayam hutan hanya bisa dilakukan di pagi hari. Cukup dengan berjalan menelusuri pinggir hutan. Jika mendengar suara kokok ayam hutan jantan, maka kita harus berjalan melingkar untuk kemungkinan tidak dilihat si ayam. Nah, setelah kelihatan bagian tubuh ayam yang bertengger di pohon, tinggal dooorr…. mati. kasihan kan?

Namun demikianlah. Saat saya tanya apakah tidak khawatir suatu saat ayam hutan akan habis, teman saya berkilah. “Ya tidak mungkin lah..” katanya. Dia berargumen bahwa masih banyak sekali ayam hutan liar di tempat kita ini. Hari ini kita tembak seekor, minggu depan akan ada yang berkokok lagi. Tembak lagi, mati lagi, berkokok lagi. duuhh…

Lalu Rusa. rupanya binatang langka ini juga masih tersisa di berbagai hutan di jawa tengah. Namun saya yakin jumlahnya tidak seberapa. Konon berbru rusa dilakukan pada malam hari. Sekali door, rusa mati. Seberapa besar pelor yang digunakan? Nah, mungkin akan saya ceritakan kembali di waktu lain.

Salam.

Kategori:Uncategorized
  1. bosok@yahoo.com
    29 September 2012 pukul 3:41 pm

    lha yg berburu punya pangkat semua masak orang kecil berani mlarangya mlah kita nanti yg didorr…ditempat q ada rusa tiap malam berbunyi mudah mudahan dia selamat dari perbuaruan…polisi perhutani tuganya ngapain tow

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: