Beranda > cerpen, motivasi, puisi, Uncategorized > Bukan Masalah Panjang-Pendeknya, Yang Penting Cara Bermain

Bukan Masalah Panjang-Pendeknya, Yang Penting Cara Bermain

Hampir di setiap tempat yang saya thongkrongi, selalu saja ada satu orang pembual besar. Pembual itu kerjanya nyinyir, menceritakan hal-hal yang kecil atau bahkan remeh-temeh, dan hampir tak pernah menyinggung pembicaraan dengan tema besar. Tak hanya di tempat nongkrong, namun bahkan di setiap kantor atau bahkan dalam hampir setiap kegiatan yang digelar baik oleh pemerintah maupun non pemerintah selalu saja ada satu dua orang yang suka membual.

Pembual seakan tak pernah kekurangan ide. Ada saja saban harinya yang dibualkan. Hari ini ngrasani tetangganya yang selingkuh hingga 17 kali, besok harinya akan menceritakan ayam bliriknya yang mampu bertelor hingga 30 butir dan semuanya menetas dieraminya. Besoknya lagi, bisa jadi dia cerita bualan tentang warung Mbak Yah yang larisnya luar binasa sedangkan warung sebelahnya sepi minta ampyun. Ceritanya tak pernah lurus. Selalu ada saja bumbu yang diracik dan dicampurkan ke dalam bualannya. Kadang menggunakan bahasa metafor (yang sesungguhnya dia bahkan tidak tahu apa itu metafora), namun bisa juga polos tanpa garam.

Ada banyak pembual yang saya kenang hingga saat ini. Misalnya si Ajo Sidi. Ajo Sidi adalah teman sekantor saya beberapa tahun yang lalu, sebelum saya diunreg dari kantor itu. Aneh-aneh saja cerita si Ajo Sidi. Tentang istri dokter yang selingkuh dengan penjual CD bajakan yang ngontrak sudut pekarangannya, misalnya; Ajo akan bercerita dengan penuh nafsu tentang bagaimana cantiknya istri dokter itu, yang hampir tiap malam ditinggal suaminya (seorang dokter) piket ke rumah sakit. Apa yang kurang dari seorang dokter itu? Ajo kadang melontarkan pertanyaan retoris di tengah ceritanya. Ganteng, kaya, pinter, cerdas, baik hati dan suka menabung, pokoknya perfect dach… Nah, suatu saat si dokter ingin membuktikan selentingan tetangga-tetangganya. Malam itu dia pamit hendak piket ke RS, lalu melaju dengan mobil jaguarnya. Tapi tak, dokter itu tak sampai ke RS. Di tengah perjalanan dia putar balik, pulang ke kandang. Hingga beberapa puluh meter dari rumahnya mesin mobil dibunuhnya. Lalu masuk, dan memergoki istrinya selingkuh dengan bakul CD bajakan. Maka diceraikanlah istrinya dan menikahlah istri dokter itu dengan CD bajakan. Apa yang mau dimakan? CD bajakan? Tak betah kekurangan makan, si istri selingkuh ngenger lagi ke mantan suami, ya si dokter tadi. Anehnya dokter itu menerimanya lagi.

Nah, hal-hal seputar dan semacam itulah yang seringkali diceritabualkan oleh Ajo Sidi. Bahkan ada yang lebih menggelikan lagi, masih tentang seorang laki-laki. Laki-laki itu, konon tetangga jauh si Ajo Sidi, bertubuh pendek lagi kecil. Biasa, banyak orang yang suka meledeknya. “Alah…, paling-paling sekecil biji melinjo. Nggriseni thok.” Begitu banyak orang meledeknya. Pun saat dia suatu hari kloyongan ke SK. “Hai! anak kecil, mau apa?” begitu ledekan para PSK. Maka laki-laki kecil itu murka. Berminggu-minggu mengurung diri di dalam rumah, memeram barangnya dengan teh wayu. Setiap hari, siang dan malam, dibungkuslah barangnya dengan plastik berisi teh wayu tadi. Hingga saatnya tiba, lakilaki tadi datang ke SK lagi. Para PSK mengejeknya lagi, “Hai! Mau jual biji melinjo, anak kecil?” lakilaki kecil menantang, “Ayoh, nek ngantek ora kepentutpentut, njalokmu piro tak bayari..

Maka begitulah. Sukses lakilaki kecil tadi. Gratis setiap hari.

Saya sebenarnya tak percaya 100% cerita-cerita bual tadi, namun entah mengapa selalu saja ngangeni. Seakan ada rasa senang dalam diri ini saat dibohongi si pembual, yang juga temanku sendiri. Kini aku tak pernah mendengar bualan-bualan dari teman-teman lagi. Semenjak punya anak istri, hari-hariku habis untuk ke sawah dan ngopeni ternak demi sesuap nasi. Nongkrong di warung saat malam hari, walah, aku tak sanggup lagi. Lalu aku membayangkan, alangkah bagusnya jika para temanku yang suka membual tadi punya kemampuan untuk menuliskan segala yang pernah diceritakan. Namun tak, tak setiap ahli tutur mampu menulis dengan baik. Pun sebaliknya, para penulis belum tentu mampu mengomunikasikan ceritanya dalam bahasa tutur.

***

Dua hari yang lalu (Rabu, 16 Mei 2012) saya menerima kiriman dua buah buku dari Pak Wilu. Satu buku kumpulan cerpen, satunya lagi kumpulan puisi. Tak menunggu lama, begitu sampai di tangan, bungkusan langsung kubuka dan kubaca. Kumpulan cerpen adalah pilihan pertama. Aneh, tibatiba saja aku teringat temanku yang kuceritakan tadi, si pembual tadi, Syekh Ajo Sidi. Aneh, aneh sekali. Ada apa gerangan dengan kumpulan cerita pendek ini? Wuahahaha…saya merasa persis sedang dibuali. Ceritanya, mirip-mirip cerita Ajo sidi. Tentang bibir sexy, nafsu birahi, PSK, warung kopi. wakakak..pas, pas dan klop sekali.

Tak percaya? Baiklah, biar pembaca yang budiman tak penasaran, isi buku itu akan aku ceritakan ulang. Tentu tak panjang, karena saya tak pernah punya teh wayu.๐Ÿ˜€

Pada BAB I, “Enam Gelas Kopi” menarik hati. Bualan pertama tentang meriahnya warung kopi yang konon mberkahi. Pemiliknya, janda nan cantik bahenol bernama Tamara tanpa blesinski. Kata pak Wilu sih, menarik hati.๐Ÿ™‚ Lalu para pelanggan warung tadi, tentu saja, kebanyakan laki-laki. Tak hanya perjaka, dhuda, namun bahkan juga anak SMA. Dua orang pengunjung yang jadi bahan cerita pada kopi pertama adalah Don dan Po, yang sama-sama perjaka. Keduanya suka medang di sana, bukan lantaran kecantikan tamara. Namun lebih pada faktor mberkahinya, hingga banyak order datang kepadanya. Saat GenDON ditanya kenapa tak mau sama Tamara, alasannya sederhana. Takut mati. Alasannya? he.he..baca sendiri.

Kopi kedua, bercerita tentang asal-usul janda tamara yang konon mantan suaminya adalah keturunan keluarga kaya. amun tamara minta dicerakan saja. Alasannya? Nah, lakilaki kalau sedikit kaya, matanya jelalatan ke siapa saja yang punya paha. Bahkan jika perlu sapi tetangga. ha.ha.ha.. Pak Wilu ini ada-ada saja.

Kopi ketiga, keempat, kelima dan keenam hampir sama ceritanya. Tentang banyaknya orang yang begitu ngopi menjadi mendadak kaya luar biasa. Aneh kan? Begitulah memang. Bahkan karena kopi itu, bandar togel singapura bobol kobol-kobol, ditembak angka jitu oleh Pak Wilu. Lalu si glempo (Po), teman si Gendon (Don), setelah enam bulan semenjak ngopi yang pertama di warung tamara, tibatiba saja hamil, mengandung anaknya yang pertama. Edun. wong lanang kok iso meteng? Tapi, begitulah watak bualan. wahaha…

BAB II. “Abu-Abu Re!” Dikisahkan kepadaku tentang gadis cantik nan ayu. Nah, cewek lagi kan? Gadis itu begitu cantik, dadanya, pahanya, sexynya, walah jian. Hingga Don (tentu bukan Gendon yang ngopi di Tamara); direkturnya, sering mengganggu dan bahkan hampir sempat memerkosanya, memerkosa Re. Tak tahan dengan berbagai perlakuan, Re memutuskan pindah kerja, menjadi guru privat bagi beberapa siswa. Apa lacur, siswanya (namanya Noah) adalah anak mantan atasannya yang pernah hampir memerkosanya. Waktunya balas dendam, begitu temannya menyarankan. Dan apapun kondisi Re, tekad telah ditancapkan. Re hendak menuntut balas. Caranya? Baca sendiri ya!

BAB III. Halaman 26. Pernah dengar joke tentang pasien yang konsultasi karena kelainan seks? jika belum, baiklah. Ada seorang pasien yang setiap melihat sesuatu akan dikonotasikan dengan susu (payudara wanita). Lalu saat konsultasi ke dokter, pasien itu ditest dengan beberapa benda. Pertama diperlihatkan apel, lalu ditanya, “apa yang terpikir dibenak Anda?” Sontak pasien menjawab, “Susu, payudara.” Lalu berturut-turut ditunjukkan bola lampu, bola kasti, kop, torong, kopiah (yang bulat itu lho), dan semuanya, dengan pertanyaan yang sama, dijawabnya,”Susu, payudara.” Dan terakhir ditunjukkan sebuah wiper (alat pembersih kaca mobil). Pun jawabannya sama, “Susu, payudara wanita.” Kalian tahu alasannya? “Ada sepasang, kanan dan kiri.”

Nah, kirakira hampir mirip seperti itu cerita pada bab III ini. Setiap menatap halaman 26 maka sontak Gairah seks Pak wilu meledak-ledak. Tak peduli, bahkan saat konsultasi dan dokter cantik yang menangani menunjukkan halaman 26, hampir saja dijadikan bahan kerjaan. Edun. Maka solusinya, semua buku yang ada di rumah pak wilu dilipat tepat pada halaman 26. Aneh kan? begitulah bualan. Pak wilu punya seorang pembantu (tak diceritakan cantik dan tidaknya sich..) yang lupa tak melipat halaman 26 pada kitab al-Qur’an. Maka malam itu, saat ndarus dan melihat halaman 26, kejadian terulang. Apa jadinya dengan pembantunya? wuahahaha….

BAB IV. “Marienette Zenggo” Lagilagi gadis, perawan muda. Ya, pada bab ini diceritakan kisan tentang perawan muda yang hamil tiba-tiba dan lalu diusir dari kampungnya. Padahal sumpah, tak pernah ada lakilaki yang menjamahnya. Lalu? ternyata janda itu dihamili oleh kuda kesayangannya. Nama kuda itu Salibong. Aneh kan? ya, begitulah bumbunya. he.he..

BAB V. “Kucing Fir’aun”. Yang ini, cerita kali ini, selamatlah saya. Tak ada janda dan bibir dalam kisah bualannya. wuahahaha… Pak wilu hanya bercerita tentang perjalanannya, tentang tas yang ketinggalan di kuburan dan berisi kucing mati yang menyebabkan mesin mobilnya mati. Anehnya lagi, kucing itu seakan hidup kembali dan lalu dibuangnya ke kali. Konon kucing adalah kesayangan nabi, namun kucing kali ini, yang ditemu siang tadi, adalah kucing fir’aun. Kucing yang membawa bala’. Lalu? ya, beberapa tahun kemudian kucing itu kembali lagi, ke rumahnya pak Wilu dan bahkan yang membawa pulang adalah devi, sang intri. Meoooonngg….

BAB VI. “Storika sendok”. Sebagaimana pada umumnya, hampir semua peralatan makan, minum dan memasak yang ada di rumah Pak Wilu diberi tenger. Dipahatkan nama pada salah satu bagiannya. Tak hanya pemiliknya, bahkan sendok pun ikut ditatonya.๐Ÿ™‚ Anehnya, sendok itu tiba-tiba hinggap ke mana saja. Termasuk ke dalam tas hampir seluruh anggota keluarga. Bahkan ruang makan keluarga, juga bak mandinya, dipenuhi barang tadi; Sendok bertato. hehe..

BAB VII. “Bibir Ungu Jo”. Joyce, biasa dipangil Jo, adalah wanita cantik nan sexy, berdada gempal. umur 30an, kulitnya kuning langsat dan sintal. he.he.. Jo adalah istri mantan anggota DPRD yang hendak nyalon lagi namun tak punya modal. Pay nama suami Jo. Pay adalah laki-laki yang ganteng, macho, tubuh atletis, berbulu lengan yang aduhai.. hihihi.. Karena kehidupan yang semakin miskin, Jo berniat menjual Pay kepada perempuan gatal berkantong tebal. Dan benar, pay dijualnya. Kepada siapa dan berapa harga? Nah. Mau beli? Wani piro?

BAB VIII – X, berturut-turut diceritakan tentang “Cermin”, “Kamar Ayah” dan “Ruangan Putih”. Kesemuanya menarik, semenarik bualan Ajo sidi, bahkan lebih. Jauh lebih menarik membaca cerita ini. Swer ewer ewer wis….

BAB XI. “Romantika Badruno dan Tiga Kisah Lainnya”. Kesemuanya bertutur tentang kisah lonte, PSK, tentang perempuan lah pokoknya. Banyak sisi menariknya. Silahkan segera tuntaskan pembacaan Anda. Jika belum punya, inbox saya. wehehe..

***

Membaca Pak Wilu, Kucing Fir’aun, seakan kita diajak untuk mambaca Harris Effendi Tohar, Tina Savitri, SGA, Ahmad Tohari, Budi Darma, atau juga Hamsad Rangkuti. Buku ini bertutur tentang kejadian sehari-hari yang kadang lepas dari perhatian kita, yang padahal menarik sekali sebenarnya. Haris misalnya, yang bercerita tentang “Istri Tukang Kasur.” Atau Ahmad Tohari yang bercerita tentang “Warung Penajem”

Pak Wilu bercerita dengan sangat sabar dan teliti, pun tanpa kosa kata aneh yang seringkali sulit dimengerti. Bahasa yang digunakan adalah bahasa seharihari yang sudah kita akrabi. Dalam hal ini, pak Wilu berhasil sekali. Bagi pembaca yang teliti, memang, akan menemukan bahwa seringkali pikiran kita dijungkirbalikkan oleh kenyataan. Namun dalam beberapa bagian, saya melihat ada yang kurang berhasil. Pada “Abu-Abu Re” misalnya. Di halaman 21 tertulis;

Pey keluar dari kamarnya dan langsung duduk di sampingku. Betapa aku mencium bau semerbak aroma produk original J-Lo yang memang menjadi favoritnya. Dia cuma mengenakan celana pendek jeans rodal-radul dan T-shirt polos ketat, sehingga kutang violetnya tampak samar menggemaskan

Kalimat itu, dalam pandangan saya yang awam, kurang berhasil mewakili pikiran Re yang adalah seorang wanita cantik dan normal, namun justru lebih berhasil mewakili pikiran penulisnya. wakakakak…
Bagian-bagian lain rasanya tak perlu saya kasih banyak komentar lagi, meski sebenarnya masih ada. Secara umum saja, kesan saya kumpulan cerita ini seperti gadis manis. Paragraf pembuka pada bab I kurang begitu menggigit, tak tepat sasaran. Padahal dalam sebuah cerpen, hampir semua paragraf adalah penting sebagai amunisi. Ini pandangan saya yang bisa jadi berbeda dengan orang lain. Lalu pembagian judul (saya menyebutnya BAB untuk memudahkan) yang pada bagian awal (kopi) dan akhir (kisah lain) seakan terpaksa disatukan. Andai dipisah sendiri-sendiri dalam beberapa judul saya kira juga tak jadi masalah. Bisa jadi justru lebih menarik, karena dalam cerpen pun berlaku; Bukan masalah panjang pendeknya, namun lebih kepada cara bermainnya. Dan dalam permainan yang semacam itu, meskipun pendek, saya tak meragukan kemahirlihaian Pak Wilu. Tak Percaya? Silahkan tanya Mbak Devi. Eh, maksud saya, coba saja baca sendiri. hahahaha…

Salam.

  1. 17 Mei 2012 pukul 11:06 pm

    cerita yang lucu(tepatnya kocak) dan orsinil. Tidak membuat pembacanya tertawa terbahak bahak namun senyum-senyum. Kelebihan lain :sangat lincah mempermainkan kata-kata dan tepat ditempat yang seharusnya.
    salam kenal dari saya oldman Bintang Rina.

    • 18 Mei 2012 pukul 2:33 pm

      Salam kenal Pak Bintang, cerpen-cerpen anjenengan juga, sungguh luar biasa.๐Ÿ™‚

      Selamat mala.

  2. 18 Mei 2012 pukul 12:22 am

    wahaha

    • 18 Mei 2012 pukul 2:42 pm

      wehehe..
      Selamat malam Mas SG, ada apa kiranya hingga Panjenengan tertawa?๐Ÿ™‚

  3. 18 Mei 2012 pukul 3:05 pm

    nganu…hehe. lihat emotikon๐Ÿ˜€ tiga buah. kayaknya kok sumringah

    • 22 Juni 2014 pukul 7:03 am

      Ternyata tulisan saya yang satu ini sangat laris manis mas SG.๐Ÿ˜€

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: