Beranda > Uncategorized > Menjadi Guru Hebat?

Menjadi Guru Hebat?

Tulisan ini awalnya aku tulis di Klub Menulis Guru IGI, namun sepertinya kurang menarik. Baiklah, biar aku simpan di laci ini saja sebagi kenangan hidup.🙂

Di Sebuah Hotel (judul awal)

Sabtu, 28 April 2012.Pagi yang cerah, secerah hatiku pagi itu. Burung merpatiku sudah bertambah satu, menetas sepagi itu. Ah, seneng sekali anak-anakku melihat kebahagiaan merpati itu. Ayam bangkok kesayanganku masih mendekam, mengerami telurnya yang lebih dari sepuluh butir jumlahnya.

Selepas subuh, dua ekor ayam tanggung kutangkap dan kujual seharga 100ribu. Uang hasil penjualan kutitipkan pada istriku. Lalu aku berangkat ke sawah lebih pagi untuk mencari rumput pakan ternakku hari itu. Hari sabtu memang au tak punya jadwal mengajar sehingga bisa tidak berangkat ke sekolah. Sementara anak dan istriku berangkat sekolah, aku bersiul-siul bahagia di sawah sembari mencari rumput. Aku membayangkan sejak sebelum subuh, bagaimana senangnya mengikuti acara di sebuah hotel bersama guru-guru hebat yang dipandu fasilitator kenamaan yang telah berpengalaman dalam pendidikan. konon nara sumber yang akan didatangkan adalah seorang guru yang tak hanya cantik, namun energik, kreatif, cerdas dan kritis. Beliau adalah seorang inspirator pendidikan, penulis buku, juga seorang motivator.

Pukul sepuluh pagi.
Aku pulang dari sawah, disambut burung-burung merpati dan ayam di belakang rumah. Ah, rupanya istriku lupa menyediakan makanan bagi mereka pagi itu. Akupun mengambil segelas jagung dan menebarkan buat mereka. Ternak-ternak yang selalu membuat bahagia hari-hariku. Lalu kambing, rupanya mereka telah lama menungguku. Ketika rumput kusiapkan di tempat pakan, mereka melahapnya dengan penuh kebahagiaan. Lengkap sudah kebahagiaanku pagi itu. Anak dan istri sekolah dengan senang hati, seluruh ternakku juga sudah tersantuni. Seekor merpatiku bernyanyi lalu terbang hinggap di pundakku. Rupanya dia memberitahu bahwa telurnya telah kembali menetas satu. Begitulah kebahagiaanku. ah, tak lengkap rasanya jika aku tak berbagi dengan Panjengan semua, para pembaca yang berhati mulia.

Pukul sebelas, anak-anak dan istriku sudah sampai rumah. “Assalamu’alaikum,” begitu riang anak-anak dan istriku menyapaku hari itu. Aku tahu, mereka senang bukan kepalang akan janji yang kusampaikan kemarin siang. “Besok, kita akan ikut acara di kota. Acara di sebuah hotel berlantai tujuh, bersama guru-guru hebat.” Begitu aku berjanji pada anak-anak dan istriku. Lalu istriku memberitahu bahwa siang nanti Jl. pemuda akan ditutup karena malamnya akan ada acara penting di sepanjang jalan pemuda, Pandanaran dan sekitarnya. “Kita berangkat selepas dzuhur saja,” kataku pada mereka.

Setelah shalat dzuhur, kami berangkat ke kota. Alamdulillah ada saudara yang baik hati, berkenan meminjamkan sepeda motornya kepada kami. Berempat kami menuju kota dengan rasa gembira di hati. Jalan yang menurun dan berbelok-belok membuatku harus ekstra hati-hati. Melaju sangat pelan dengan membawa sejumlah penumpang. Anakku yang kecil duduk di depan, anakku yang besar di belakangku bersama istriku. Pegel sekali tanganku menahan stang menelusuri jalan yang berkelok-kelok, menurun curam dan panjang. Sampai di jalan pemuda aku kebingungan. Bagaimana cara menyeberang jalan? ramai dan penuh sesak kendaraan yang lalu-lalang bahkan tanpa selang. Aku berhenti cukup lama di seberang jalan menunggu kesempatan datang. Tak juga ada kesempatan. Untung ada seorang satpam yang baik hati datang. Ia menghampiriku dan membatu menyeberang jalan yang sibuk itu. Masuk tempat parkir, kembali bingung melanda diriku. Aku berhenti meminta karcis, ternyata keliru. “In karcis mobil Mas, karcis motor di situ,” kata penjaga loket sambil menunjuk tempat di depanku. Lalu seorang pengendara motor yang baru tiba melintas cepat disebelahku. Aku mengikutinya saja. Berhenti di depan loket, membuka helmnya, lalu menyapaku, “Ambil karcis di sini Mas,” semabri tersenyum. “Ah, ramah dan cantik sekali gadis itu, pasti dia mahasiswa,” pikirku.

Setelah memarkir kendaraan aku bertanya kepada seseorang, mungkin pengunjung restoran. “Mas, di mana tempat seminar guru hebat ya?” tanyaku sopan. Dia kaget, namun menjawab juga. “Oh, mungkin di hotel lantai lima Mas. Naik saja tangga itu, lalu belok kiri. Tanya satpam saja di sana,” jawabnya menerangkan. Aku ikuti petunjuknya. Ternyata benar, aku telah sampai di pintu TB Gramedia. Ada penjual roti, kalau gak salah “Dunkin’s Donat” namanya. Anakku minta dibelikan, namun aku takut jika uangku tak cukup untuk biaya pendaftaran. Maka aku hanya bisa berjanji, lain waktu pasti kita akan mampu beli. Lalu aku belok kiri. Melihat pintu kaca yang bisa membuka sendiri, aku kehilangan nyali. Ah, hebat sekali teknologi orang-orang kota sekarang ini. Tanpa menyentuhnya, pintu membuka sendiri. Mungkin sesam yang memberi inspirasi. “Sesam, buka pintu,” begitu kata cerita waktu aku kecil dulu. aku masuk bersama istri dan anakku, lalu bertanya pada orang yang ada di situ. Konon, dia disebut sebagai front office. Ada juga yang menyebutnya resepsionis. Aku ditunjukkan sebuah pintu tertutup rapat, katanya acara di lantai lima. lalu aku berusaha membukanya, membuka pintu itu. Tak juga bisa terbuka. Orang yang tadi tersenyum geli, lalu mengajariku cara menggunakan kotak ini. sekarang aku tahu, inilah lift, kotak ajaib yang bisa menghantarkan kita dari lantai satu ke lantai lima. Pencet tombol sekenanya, sampai juga aku ke lantai lima.

Alhamdulillah….. he.he.. Bersambung.

Kategori:Uncategorized
  1. 14 Oktober 2014 pukul 7:34 pm

    Hey there! I’m at work surfing around yolur blog
    from my new iphone 4! Just wanted to say I love reading
    yor blog and look forward too all your posts!

    Carry on the excellent work!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: