Beranda > Uncategorized > JANGAN TUDUH SAYA!

JANGAN TUDUH SAYA!

Puisi, Oh, Puisi!

“Aku ini penyair!” Katamu berlagu sembari menghitung sejumlah buku puisi antologi yang ‘mencetak’ nama dan karyamu ke dalamnya. “Beberapa karyaku termuat dalam buku antologi yang berjudul ‘anu’ dan ‘anu’, dan yang segera akan terbit adalah buku berjudul ‘anu’”, hebatkan, kawan, “bagaimana denganmu?”

Ya, hebat, benar-benar hebat, dalam hitungan sepenggalan galah engkau sanggup ‘menerbitkan’ beberapa buku. Bisa saya bayangkan berapa ‘hasil’ karyamu dalam hitungan rupiah, itu artinya dengan menjadi penyair anda telah sanggup ‘melampaui’ gaji seorang jendral berbintang empat atau setidaknya sejajar dengan manager sebuah perusahaan. “Kapan membeli tanah buat membangun rumah, atau mengganti mobil bututmu”

“Oh, tunggu dulu, kawan, buku-buku itu tidak dikomersilkan! Untuk menerbitkannya kita juga patungan dengan kawan-kawan, dan saya tidak berharap untuk mendapat untung, penyair itu tidak ‘materialistis’, friends”.

“O, ya? Bagus itu! Lalu, bagaimana dengan anak isterimu kesehariannya?”

“Kan dia ikut mertua, jadi saya bisa konsentrasi membuat puisi, kamu mau bergabung dengan buku antologi saya terbaru?”

“Terima kasih penawaranmu! Suatu ketika akan saya pikirkan setelah puisi-puisimu sanggup menghidupi dirimu dan anak isterimu!”

(Percakapan selesai oleh panggilan seorang anak yang merajuk-rajuk minta uang buat jajan, melengking-lengking seperti puisi pagi di antologi puisi yang berjudul: ‘Rindu Nasi’)

Puja Sutrisna, 29 Maret 2012

Tulisan di atas adalah karya Pak Puja Sutrisna, Kritikus sastra yang juga penyair tersohor dari negara boyolali. Sungguh saya tertarik dengan gremengan di saat hari masih pagi itu. Gremengan, ya, gremengan. Solilokui, bahasa anak sekolahannya. Panjenengan tahu kan, apa itu gremengan dan apa sebab orang menjadi nggremeng? Nggremeng itu bahasa jawa, yang hampir sama dengan ngomong, ngedumel, nyinyir yang embuh apa sebabe. Contoh gampangnya begini; di sewaktu pagi Panjenengan bangun kesiangan karena malemnya nggarap PR yang banyaknya minta ampun, lalu belum sempat ngopi dan atau cuci muka, tibatiba saja midak telek lencung persis di depan pintu rumah. Belum sampai ke sumur, e… manuk prenjak pating cruwit, ngoceh di belakang rumah (mengisyaratkan akan ada tamu nagih utang). lalu tibatiba saja istri berteriak seenaknya, “Pakne…mbok aku diopekke kambil ngarepan, arep njangan kok ra duwe kambil.” dan peristiwaperistiwa yang tak mengenakkan terus saja menerpa pagi Panjenengan.

Maka seringkali kita kemudian akan nggremeng, ndremimil, ngomong dewe ntah ditujukan kepada siapa, “Oalah Gusti…urip sedelok kok rekasane kaya ngene. Lagi tangi turu ae kok eneeeek ae gawean. Ora digawekke kopi, malah kon menek kambil. Midak telek lencung sisan. Manuk prenjak, duh, gek sapa maneh sing arep nangih utange. Owalah ju…”

Nah, itu hanya salah satu contoh. Ada banyak contoh lain, ngrasani pemerintahan yang amburadul misalnya. Jadi nggremeng, solilokui, adalah semacam ungkapan kegelisahan yang melanda diri seseorang. Namun demikianlah; Pada akhirnya nggremeng itu bisa menjadi semacam alat ungkap, alat untuk ngrasani entah siapa yang tak bisa kita tuntut pertanggungjawabannya karena tak ditujukan kepada siapapun. Pun demikian dengan gremengan Pak Puja di atas. Jelas pak Puja menyindir seseorang. Entah siapa, dan bukan menuding. Menyindir itu sembunyi-sembunyi, kalau menuding itu terang-terangan. konon begitu kabarnya. wehehe…

Karena tertarik dengan gremengan itu, maka saya secara sukarela mengacungkan jempol. Eh, dasar nasib. Begitu acung jempol saya langsung off line, ganti tugas nggarap PR. Lha kok tahu-tahu saya dituduh sebagai penyair oleh si penulis. begini kata Pak Puja, “Wauww..ada pak Suko Rahadi@: kalau tidak urun komentar berarti sampeyan penyair, he he he” Lho, enuk men menuduh saya sebagai penyair. Weh, ini tentu tak bisa dibiarkan. Harus segera di praperadilanken istilahnya. wahahaha….Pak Puja, mohon jangan tuduh saya Pak! plis deh donk.

Baik, kembali ke gremengan Pak Puja di atas. Inti dari gremengan itu adalah bahwa, selama masih hidup tentu kita butuh makan, butuh penghidupan. Karenanya tak boleh membabi buta dalam hal apapun. Termasuk dalam berkarya. Tak dosa jika kita hendak mencari sepiring nasi dari karya kita, jikalau perlu sebongkah berlian kita hasilkan. Sah dan sah hukumnya. Lalu? Lalu lintas macet. ada demo sih.. ups. Baik, yang menjadi fokus gremengan itu adalah penyair yang berhasil dalam karya namun gagal dalam kaya. Setiap proyeknya gagal, nombok, merugi. Ini ada baiknya, namun nampaknya banyak jeleknya. terkecuali, ya, terkecuali ada banyak dana yang bisa dicadangkan. Mau nyalon ketua RT misalnya, demi mencari dukungan silahken membikin proyek merugi. Namun, pun ada baiknya jika hal itu tidak dilakukan.

Entah apa lagi yang akan saya gremengi, tentu masih banyak, tetapi sekonyong-konyong saya teringat sebuah puisi karya penyair dari Negara Rusia, Alexander Sergejewitsjpusjkin;

Kepada Penyair

Pantangan, penyair, mengharap sanjung ‘rang ramai
Riuh tepuk mereka sebentar mati gemanya;
lalu kau dengar putusan timbangan Pak Tolol
Dan ketawa khalayak yang bikin hati patah;
Tapi andai kau teguh, tak guncang, dan sederhana,
Rajalah engkau dan nasib raja hidup sendiri.
Batin bebas di diri berseru padamu: Teruskan!
Sempurnakan kuntum indah dari mimpi-mimpimu,
Tapi jangan harap puji atas buah ciptamu.
Puji berakar di batin; hakimnya engkau sendiri,
Dan ambil putusan terkeras terhadap diri sendiri.
tapi, andai kau puas, biar itu kawanan menggonggong,
Peduli mereka meludah dinyala siar mimbarmu
Dan pada tarian asap menyan dari kuilmu

***
Suko Rahadi, tukang ngarit.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: