Beranda > Uncategorized > Kisah Simbah

Kisah Simbah

Siang tadi, saya mendengarkan sebuah cerita menarik tentang kisah nyata seorang kakek dari teman saya. maksudnya, teman saya itu bercerita tentang kisah hidup kakeknya. sepulang dari mendengar cerita itu, saya berpikir bahwa kisah hidup Sang Kakek itu sesungguhnya bisa diangkat menjadi sebuah novel atau setidaknya cerpen yang agak panjang. baiklah, ada baiknya saya kira kisahitu saya ceritakan pula kepada kawan semua. Namun tentu, cerita yang akan saya paparkan tidak akan sama persis dengan apa yang diceritakan teman saya kepada saya, pun tak akan semuanya saya ceritakan. Cukuplah kiranya saya ceritakan daripada intinya saja. wehehe…

Begini ceritanya. Pasang telinga baikbaik ya? wikikik…

Kirakira tahun 1900an, lahirlah jabang bayi di sebuah daerah yang merupakan bagian kecil dari Negara Indonesia bernama Kabupaten Temanggung. Bayi yang sehat itu lahir pada jaman yang belum cukup mengenakkan, lahir di kaki Gunung Sumbing. Bayi itu diasuh kedua orang tuanya dengan penuh kasih sayang dan digadang-gadang agar menjadi manusia sukses.
(mana ada sih, orang tua yang menghendaki anaknya gagal? wehehe..)

Namun malangtak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. jalan hidup kita akan sesuai dengan kehendk Tuhan. di usia yang masih belia (belum dikhitan) anak itu sudah ditinggal mati kedua orang tuanya. Jadilah ia yatim piatu. tanah warisan orang tuanya yang cukup banyak, tentu tak bisa diwariskan langsung kepadanya untuk dikelola. karenanya, dia dititipka pada pak lik (paman)nya. Oleh pamannya dia dirawat hingga beberapa tahun, namun sayang seluruh harta kekayaan peninggalan orang tuanya ludes, habis dijual oleh pamannya yang konon kabarnya untuk biaya hidup sang anak.

Lalu begitulah. Seperti apa yang sering terjadi di manapun, si anak akhirnya tahu entah dari tetangga ataupun dari tempat lainnya, bahwa dia punya harta warisan dari orang tuanya yang cukup banyak. maka meski belum dewasa dia memberanikan diri mencoba menayakan warisan tu pada pamannya. namun apa kata pamannya? bukan menjawab tentang harta benda yang menjadi haknya, namun justru dia dihajar oleh pamannya. menangislah ia (masih anak-anak sih, hehe..).

lanjut besok ya? mau nggarap tugas dulu.

salam.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: