Beranda > Uncategorized > ANJING, KUCING dan TIKUS

ANJING, KUCING dan TIKUS

Anjing (2)

Sudah lama sekali aku tak memelihara anjing. Namun tibatiba saja saya bermimpi di suatu sore bertemu dengan seekor anjing dan anehnya, anjing itu bisa berbicara dengan entah bahasa apa. pun aku bisa menagkap bahasanya. ah, bukan, bukan karena aku menjelma jadi seekor anjing sehingga mampu berdialog dengannya kukira. tapi aneh, anjing itu begitu baik, bahkan ngudo roso kepadaku.

Waktu itu aku sedang berjalanjalan sore, menikmati senja yang agak temaram. lalu berpapasan dengannya, si anjing yang bisa bicara. sebenarnya aku takut, namun tetap berusaha untuk menyapanya.

“…..saya ucapkan salam, “selamat sore, asu”
Ia kaget. Saya ulangi lagi salam saya, “selamat sore, su!”*

“Selamat sore juga, Su,” jawabnya pelan. kurang ajar sekali anjing ini telah berani menyebutku dengan sembarangan. lalu aku berpikir, di mana kesalahanku sehingga ia menyebutku demikian? salahkah aku memanggilnya asu? baiklah, saya akhirnya ingat bahwa dahulu sekali saya pernah punya seekor anjing yang kuberi nama pleki (silahkan baca catatan saya anjing (1)). maka demi mengingat anjing saya itu, saya kembali melanjutkan dialog dengan anjing dalam alam mimpiku itu.

“mau kemana sore hari begini, Mbang?” sekenanya saja aku memanggilnya. besar harapanku anjing itu tidak marah.

“Oh, terima kasih. kau sudah tahu namaku rupanya. Namamu Suko kan? benar namamu Suko? iya kan, Su?” kurang ajar sekali anjing ini. Binatang yang tak tahu adat. Seenaknya saja dia memanggil namaku. memang itu benar, namun duh… sungguh tak tahu sopan. Namun demikianlah Anjing itu. tak tahu tata krama. Oh, bisa jadi dia tahu tata krama, namun adat kebiasaan dunia anjing mungkin telah mengajarinya demikian. Sebagai manusia aku harus menyadarinya demi kelancaran komunikasi. maka aku membenarkannya saja.

“Baiklah,” kataku. “Kau boleh memanggilku apa saja, namun ada apakah dengan dirimu? aku melihat raut kesedihan di air mukamu.”

“bagaimana aku tak sedih, Su?” dia menjawab dengan pertanyaan.”Hai. Mbang. sopan sedikitlah kau!” aku membentaknya.Aku bentak demikian, tibatiba anjing itu kelihatan marah.

matanya merah;tatapannya yang kidal
membuat saya mundur beberapa jengkal.*

anjing itu menjadi merah matanya secara tibatiba, namun aku manusia. Maka aku keluarkan sedikit roti dari kantung celanaku lalu aku berikan kepadanya. Tibatiba saja lidahnya menjulur, air liurnya menetes. begitulah tabiat hewan yang satu ini. Mudah sekali menjinakkannya. bahkan sepotong roti mampu melupakan dia dari tuannya. maka jangan heran, jika suatu saat anda elihat anjing yang suka berpindah tempat naungan demi sepotong roti dan sekerat tulang.

aku tak lagi berpikir tentang bagaimana ia menyebutku. biarkan saja. memang anjing, demkian adanya.
“Baik, baik. lalu mengapa kau menjadi sedih, Su? eh, Mbang?”
“Apa salahku di dunia ini sebenarnya, Tuan?” dia tibatiba menyebutku tuan. belum sempat aku menjawabnya, dia meneruskan katakatanya. “Saya ini, sebagai makhluk tuhan sebagaimana sama dengan kalian, mengapa saya dianggap sebagai hewan yang menjijikkan? setiap hal yang jelek lalu dikaitkan dengan saya.” anjing itu nampak semakin sedih, meski tetap menjulurkan lidah dan menetes air liurnya. lalu ekornya. lihat ekornya itu. masih kopatkapit, persis anjing yang pernah saya pelihara dulu.
“lho, mengapa justru kau tidak senang su?” tanyaku sembari kembali memberinya tulang.
“senang bagaimana maksud Tuan?” kembali dia menyebutku tuan.
“bukankah mestinya kau bangga disetarakan dengan manusia?”aku mencoba membalik cara berpikirnya.
“Tuan, ketahuilah olehmu. manusia itu, jika sudah jelek bahkan akan lebih hina dari saya yang seekor asu ini. tentu saya tak mau disamakan dengan mereka sebagaimana tuan tak berkenan disamakan dengan saya.”

benar juga anjing ini, pikir saya. tibatiba saja saya menyetujui pemikirannya. tapi, oh. dia tetap saja asu. bisa jadi anjing sekarang ini dikaruniai kemampuan beretorika yang lumayan. jika pembicaraan ini saya teruskan bisa jadi pikiran saya akan sama dengan anjing itu. atau malah saya ikutikutan bertabiat seperti anjing. maka ada baiknya saya akhiri perbincangan ini.

“baiklah, mbang. aku kira kau tak perlu bersedih, ini aku kasih sisa sedikit roti lalu lanjutlah berjalan. hendak kemana engkau aku tak perlu tahu. selamat sore, su.” lalu aku melemparinya sebungkus roti.

Anjing itu pun minggir, menyilakan saya lanjut jalan.
Dari belakang sana terdengar teriakan,
“Tolong, tolong…! Anjing, anjing…!” *

bersambung lagi ya? he.he..
eh, yang bertanda bintang (*) dan tercetak miring itu potongan puisi jokpin yang berjudul ASU.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. 16 Juni 2012 pukul 8:53 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: