Beranda > Uncategorized > Mini Market

Mini Market

biasanya simbok menyuruhku membeli krupuk untuk lauk di rumahnya. dari rumahku berjalan ke arah selatan, setengah kilometer jauhnya. aku ini bukan pengingat yang baik. saat disuruh membeli beberapa jenis bumbu dapur; brambang, bawang, miri, mrico, ataupun tempe bosok, aku seringkali gagal mengingatingat nama berbagai jenis bumbu dapur itu. nah, untuk mengatasi kelemahan saya yang satu ini, biasanya sepanjang jalan dari rumah hingga ke warung itu aku ndremimil menghapal semua nama bahan yang hendak kubeli. hanya, yang selalu kuingat hingga kini, nama pemilik warung sekaligus penjual bumbu itu namanya mini. entah siapa nama lengkapnya, hingga kini aku belum uga ngerti. aku seringkali memanggilnya mbak mini, karena dia berumur jauh di atasku.

mini. dia cantik sekali. mini artinya kecil. namun hanya nama, tidak dengan ukurannya. dia, orangnya, besar sekali.tentunya, karena aku waktu itu masih kelas 1 Sekolah Dasar, sedang mbak mini sudah SMA. sebagai manusia, meski mini namanya, lengkap organ tubuhnya. tangannya ada dua, kaki, telinga, lubang hidung, uga yang lainnya yang seharusnya dua. mini namanya, juga pakaiannya. dia suka berpakaian yang minimini. kaos mini, celana mini.

pakaian mini. mini hanya ukurannya saja. jika dipakai akan ketat sekali dilihatnya. namun lengkap. ada lengan bajunya, ada sakunya, ada kerahnya, ada beniknya. jika dihilangkan sebagiannya, tak akan juga mengurangi kesan bahwa yang dipakainya bukan pakaian, handuk misalnya. orang akan tahu bahwa dia memakai baju, bukan jarit atau handuk. itu sebab ada potongan dan jahitan yang membentuk pola tertentu. ah, pakaian mini itu menarik sekali bagiku.

besar sedikit, aku bisa naik sepeda. bapakku bukan orang kaya. aku berlatih naik sepeda, dengan sepeda teman yang aku pinjam. besar sekali ukurannya, sehingga disebut sepeda unta. namun akhirnya bisa uga aku naik sepeda. bapakku kasihan kepadaku. maka aku dibelikannya sepeda baru. bukan yang beroda empat itu, namun cukup besar untuk ukuranku. orang menyebutnya sepeda mini. lagilagi mini. sepedaku lengkap pada bagianbagiannya. ada rodanya, ada sadelnya. ada boncengannya, ada standartnya, ada rantenya, pokoknya lengkap. kalaupun aku melepas boncengannya, orang akan mengenal bahwa sepedaku sepeda mini. jadi mini bagi sepedaku, hanya sebutan karena ukuran. bukan karena ada yang kurang.

aku sedih sekali. kelas empat SD, warung mbak mini bangkrut dan akhirnya tutup. orangorang beralih, berbelana di mini market. aku juga. naik sepeda mini, belanja di market mini, melihat banyak orang berpakaian mini. lho, kenapa semua serba mini? ah…ada-ada saja. ternyata penjaga tokonya, lagilagi juga bernama mini. mini market. entah kenapa disebut demikian. mungkin juga hanya karena ukuran. pasar kecil, demikian terjemahannya setelah besar aku ketahui. meski kecil, pasar itu lengkap sekali. lengkap barang dagangannya, lengkap propertinya. ada penjaga/penjual, ada barang dagangan yang lumayan, ada tempat yang nyaman. yang tak ada hanyalah budaya “nyang-nyangan” (tawarmenawar harga). mini, namun lengkap sekali. tak seperti warung mbak mini.

Taman mini. ya, aku ingin sekali, berkunjung ke taman mini. akankan tercapai yang kuingini?he.he..
ini cerita mini, bukan puisi. namun, lengkap sekali.

2011

Kategori:Uncategorized
  1. Irfan Handi
    24 September 2011 pukul 2:05 am

    mini tapi komplit! he.he . . .

  2. 27 September 2011 pukul 12:24 pm

    Sangat berkelas !
    Kuntowijoyo jilid 2 ki…
    Ditunggu mini2 dan cah ndeso yang lain.
    Salam.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: