Kawan

sudah sejak lama aku bercitacita, berkeinginan untuk membeli barang seekor ayam jago. bukan untuk diadu, namun untuk kelangenanku. dan aku bersyukur, bahagia sekali. siang tadi, setelah beberapa bulan aku menabung, terkabul keinginanku memiliki seekor ayam jago berjenis wido. berjengger sumpel, bertaji tajam. gagah sekali nampaknya. aku sangat suka. demi saking gembiranya hatiku, aku cerita kepada hampir setiap teman dan tetanggaku. namun, aduh, tibatiba jadi sedih hatiku. seorang teman mengatakan bahwa yang kubeli tadi siang, bukanlah seekor ayam jago, namun seekor kambing jantan. Sejak dulu yang bertaji itu ya kambing, bukan ayam jago, katanya. aku mengiyakan saja.

memang menurut sebuah cerita fabel, bahwa taji pada awalnya memang bukan milik seekor ayam. jaman dahulu taji dimiliki oleh seekor kambing jantan. jadi besar kemungkinan orang itu adalah orang “lama,” yang belum pernah dengar cerita bahwa taji itu telah dipindahkan tempatnya, dari kaki kambing ke kaki ayam. kemudian pula, orang tersebut belum melihat sendiri seperti apa hewan yang dimaksud. dia hanya dengar ceritanya saja, bahwa ada sebuah taji tajam di kedua kakinya. itulah akibatnya, berpikir kolot dan menyimpulkan cerita yang tak sepenuhnya didengarnya.

maka malam itu aku perhatikan sungguhsungguh ayam jagoku. tajinya nyata, jenggernya nyata, sayapnya juga ada dua. tak pernah kudengar cerita bahwa ada seekor kambing memiliki sepasang sayap. maka aku kembali meyakinkan diri bahwa piaraanku benarbenar ayam jantan sebagaimana keyakinan awalku. aku beri makan jagung, dia mau. aku kasih gabah, dia juga mau. semakin mantap keyakinanku. ayam betina itu, bukan jago, kata teman yang satunya saat pagi telah tiba. aku tercekat. kembali bimbang akan adanya seekor hewan. benarkah betina dan bukan jantan?

keraguan akan datang kepada siapa saja yang tak memiliki ilmu tentang sesuatunya. meski berada persis di depan mata, keyakinan kita bisa diruntuhkan oleh orang yang justru tak memilikinya dan bahkan belum pernah melihatnya. oleh karenanya akan ada baiknya jika kita menyelidik dengan sebenarbenarnya akan apa yang ada di depan kita dengan ilmu yang tidak seadanya. dan juga, tak ada jeleknya jika kita tanya saja, misalnya, apakah hewan itu benar ayam atawa kambing. jika benar ayam, apa dia lakilaki atau perempuan. biar gamblang.

aku sudah tak peduli lagi. maka malam harinya setelah bimbang seharian, aku tidur di awal malam. betapa kagetnya aku. di tengah malam itu, tepat tengah malam, jam dua belas kirakira, ada suara ayam berkokok. kukira itu ayamku. ya, ayamku berkokok malam itu, maka kembali bangkit keyakinanku. bukan kambing, namun seekor ayam. bukan ayam betina, namun benar, aku yakin ayam jantanku yang berkokok. mana ada ayam betina berkokok?

keyakinan kita bisa datang secara tibatiba, namun juga mampu hilang musnah secara tibatiba pula. dia datang dan pergi dengan sebuah tandatanda. kita tak mampu menghadirkannya, namun akan datang dengan sendirinya, di saat kita entah mungkin sangat mewmbutuhkannya. ayam jantan itu contohnya.

ha.ha.ha…temanku tibatiba tertawa. setelah melihat tandatandanya, dia mengatakan bahwa ayamku adalah ayam betina. lihat! katanya. benarbenar dia ayam betina. kok bisa? aku bertanya. jalannya megalmegol tak karuan. dia menerangkan. kurang ajar sekali kawanku itu. aku yakin dia hanya mengejekku. Kau tahu? kawanku bertanya lagi kepadaku. Apa agama yang dianut ayam jelekmu itu? pertanyaan yang aneh. ayam kok ditanya masalah agama yang dianutnya. sinting, gendeng luar biasa. namun aku menjawab secara tibatiba pula. Islam!, teriakku. apa dia pernah ke masjid? menimpal saja kawanku itu. aneh, aneh sekali kawanku itu. ayam kok ditanya apa agamanya, apakah pernah ke masjid juga dia. maka secepatnya, kuambil kalung salibku dan kuikatkan di lehernya. dia kristen ortodok, kataku. sekali ini, dia, kawanku itu, mati kutu.

Nah, kawan, apakah kau punya seekor ayam jago yang jantan?

22082011.

Kategori:Uncategorized
  1. 29 Agustus 2011 pukul 11:11 pm

    hahaha. lucu.😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: