Pencuri

/1/

Waktu aku kecil, pernah sekali aku melihat pencuri. Di kampungku dulu, pencuri lebih dikenal dengan istilah maling, juga kecu. Pencuri, waktu itu, adalah manusia dug-dheng (tangguh sekali). Untuk menjadi maling tak bisa sembarang orang. Bagaimana tidak? Dia bisa mengambil barang milik orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya. Kalau ketahuan pemiliknya, maka pencuri itu akan kabur, melarikan diri entah kemana. Konon kabarnya, pencuri sudah berhitung hal ihwal itu sebelumnya. Jadi tidak sembarangan mencuri. Jika malam rabu pon, misalnya, saat mencuri dia harus ke arah tenggara. Kalau kemudian aksinya ketahuan, maka dia harus melarikan diri ke arah barat daya. Bukan ke singapura. he.he..Jika berani melanggar perhitungan itu, maka naas nasib pencuri itu. Dia akan habis digebugi massa. Pencuri, ya pekerjaannya mencuri. Mencuri properti milik orang lain, entah siapa. Tak peduli meski itu tetangga dekatnya. Jaman dahulu, pencuri melakukan kegiatannya dengan cara nggangsir. Membuat lubang dari tempat tertentu, hingga tembus ke dalam rumah yang akan dicuri propertinya. Bisa jadi, pencuri adalah tetangga sendiri. Profesi ini tentu tak gampang diketahui. Karena memang, pencuri sangat lihai menutup diri, menyembunyikan profesi. Itulah sebabnya, ketika bertemu orang lain dia akan lari. Bukan karena takut berkelahi ataupun mati, namun itu etika dari profesi seorang pencuri. Saat mencuri harus tak boleh ada seorangpun yang mengetahui. Bahkan jika perlu, sebagian hasil mencuri dia bagibagi ke tetangga kanan kiri. Eh, ternyata pencuri juga baik hati. Kalau perlu, saat ketahuan sedang beraksi, pencuri turut berteriak, “Pencuriiii….!!!” Ya, maling teriak maling.

Sungguh, aku takut ketika harus bertemu dengan pencuri. Bukan takut karena akan digebugnya, namun takut ketika dia ketangkap nanti. Tak ada pilihan, dia akan digebugi, dan saat itum juga pencuri pencuri harus mati. Pun, jazadnya tak akan dimandikan, tak akan dikafani, tak akan diurus selayaknya orang mati. Dia akan dikubur di tempat sembarangan, biasanya di bawah papringan (rumpun bambu). Tempat menguburkan mayat pencuri akan ditakuti, dan dikenal sebagai kuburan maling. Aneh. Tempat itu kemudian biasanya akan ditempati rayap, hingga tanahnya menggunduk tinggi sekali. Hal inilah yang kemudian menyebabkan setiap ada gundukan rumah rayap dibawah rumpun bambu akan dikenal sebagai kuburan maling. Anakanak takut mendekatimya. Tapi itu pencuri jaman dahulu.

Saat malam hari melihat pencuri melarikan diri, sungguh, aku melihat seakan pencuri itu tinggi dan besar sekali. Berukuran raksasa, tak selayaknya ukuran manusia pada umumnya. Padahal sesungguhnya sama saja. Hanya karena rasa takutlah, yang menjadikan pandanganku berbeda. Linggis adalah satusatunya properti yang digunakan pencuri dalam beraksi. Alat ini berfungsi untuk mencongkel jendela, jika dia tidak melakukan aksinya dengan nggangsir. Hebat sekali pencuri saat beraksi. Perhitungannya matang sekali. Pada saat mana orang lengah, juga orang mana yang layak hartanya untuk dijarah. Selain berhitung masalah arah, pencuri juga menggunakan ajian sirep untuk menidurkan yang empunya rumah.

Ingsung iki malimg sangaji

putune simbah kang njaga gunung merapi

wus pitung dina ora mangan iwak ati

bengi iki aku anekani puji

ingsun amantek aji

ajiku aji sirep

mbulgombalgambul

ajiku sirep megananda

belgeduel..beh

he wong kang melek podo turuo kabeh

ngimpio karo wong ayu kang welehweleeehh…

Hebat sekali ajian sirep ini. Orangorang yang semula ngopi sambil ceki, langsung menguap, puss…tertidur tanpa permisi. Namun demikian, ada manusia yang lebih hebat lagi, lebih jeli dalam mengamati kelakuan pencuri. Berdasar hitungan, dalam dino pitu pasaran limo, mesti ana lena. Dalam hitungan yang tujuh hari dan lima pasaran, pasti akan ada saat pencuri mengalami kelenaan. Saat itulah pencuri akan tiba naasnya.

Dan Pencuri, tidak bisa tidak, harus mati. Berbeda dengan saat sekarang ini.

/2/

Pencuri itu tibatiba saja masuk rumahku saat aku terlelap. Kuat dugaanku, dia mengandalkan ajian sirep megananda. Begitu senyap, begitu cepat. Dasar pencuri, tahu saja di mana aku menyimpan konci. Brangkaspun cepat dibukanya. isinya? Segumpalan otak yang sedang aku istirahatkan. Ya, pencuri itu mengambil otakku. Kini, mau berpikir pakai apa aku?

Kawan, Pinjem otakmu dunk!

  1. 7 Agustus 2011 pukul 4:39 am

    bagus ceritnya itu, pencuri>>>

    • 1 Agustus 2012 pukul 9:46 pm

      Terima kasih atas pujiannya ya Pak…

      Salam.

  2. 8 Agustus 2011 pukul 7:21 pm

    waktu masih kecil dulu, aji sirep begitu akrab di telinga saya, pak. konon dengan ajian itu, seorang pencuri bisa dengan mudah menjarah barang2 yang diincarnya.

    • 1 Agustus 2012 pukul 9:47 pm

      Sekarang masih ada yang punya aji sirep nggak ya Pak, saya ingin juga belajar. he.he..๐Ÿ™‚
      Matur nuwun Pak Tuhu..

      Salam.

  3. 25 Agustus 2011 pukul 9:01 am

    aku pernah dong dua kali mergokin maling. waktu itu modus yang lagi populer adalah dengan kawat untuk menjarah hape di kamar-kamar tidur. tapi si maling nggak tau aku ini makhluk nocturnal alias aktif di malam hari. jadi pas dia mau buka jendela aku pergokin. HOY! grasak, grusuk,.. *kabur dianya*
    lumayan seru dan nyeremin. dag dig dug tapi exciting.
    tapi amit2 jabang baby dah, jangan sampe kemalingan. atuut..
    nice story gan. ijin masukin blognya ke blogroll.๐Ÿ˜€

    • 1 Agustus 2012 pukul 9:49 pm

      Monggo Mas Ilham, silahkan…
      Memang kita seringkali kalah nyali dengan pencuri. Lha jelas, wong pencuri kalau terdesak bisa asal sabet, membunuh tak lagi jadi pikiran mereka. Hik’s.. takyut ah..

      Salam.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: