Beranda > cerpen, puisi, sains, Uncategorized > Ilmu dan Rasa

Ilmu dan Rasa

Malam yang dingin. Aneh, tibatiba perutku merasa lapar. Tapi perut tak mampu bicara. Mulutlah yang mengucapkannya. “Perutku lapaaarr…” Keningku tibatiba saja menjadi hangat. Perut yang lapar, tapi kening yang menjadi hangat. Lalu mataku. Mataku menjadi sedikit berkunangkunang. “Apa yang harus aku lakukan?” Owh, itu tanpa ucapan. Otaklah yang berkata demikian. Otak bicara tanpa katakata. Lalu hati menarikku, mengajakku. “Ayo makan..,” katanya. Muncul rasa ingin makan. Di mana rasa itu?

Maka kaki melangkah tanpa perintah. Kaki berjalan kesana, membawaku ke warung sate. “Sattteee…ndak pake lammaa!”
“Habis Mas,” kata si tukang sate.

Sate habis. Hati menjadi sedih. Perut yang lapar, kepala yang pusing, kaki yang melangkah, hati yang gondok. Lapar adalah rasa, pusing juga rasa. Demikian halnya, gondok juga adalah rasa. Maka otak harus bekerja. Rasa lapar memaksa otak untuk bekerja. Dapur. Tibatiba saja dalam otak yang berukuran kecil itu muncul sebuah dapur. Oh, tidak. Otak berpikir tentang dapur, ada rasa ingin memasak. Jadi ingin adalah juga rasa. Tapi tak bisa. Ya, tak ada kemampuan pengatahuan masakmemasak. Maka buku adalah bantuan utama. Munculah rasa ingin tahu, ingin membaca buku resep. Resep masakan tentu saja, karena itu yang dibutuhkan. Jadilah aku punya pengetahuan. Aku dapat ilmu. Ilmu baru tentang masakmemasak.
Nah, karena adanya rasa maka aku jadi berilmu. Maka rasa adalah benih ilmu itu.

Rasa kenyang setelah makan. Maka hidup masih bertahan. Hidup, memang dipenuhi rasa. Rasa lapar, rasa malas, rasa ingin tahu, rasa jengkel, rasa strawberi, rasa kelapa. he.he.. Manusia matilah yang tak punya rasa. Jika hidup tak punya rasa, maka bangkai namanya. Lalu hewan? Entahlah Kawan…terserah kamu saja. Apalah gitu..

Mempelajari rasa adalah mempelajari orang, mempelajari manusia, mempelajari bahasa. Kita adalah yang kita bicarakan. Artinya kita bicara tentang diri kita sendiri. Lalu siapa diri kita ini? Aku misalnya. Aku hanyalah sebuah kata. Aku terdiri dari a k dan u. Semua adalah atom. Atom dalam kertas atom. Atom dalam pikiran atom. Entah kapan orang tuaku menyerahkannya kepadaku, tibatiba saja orang memanggilku dengan sebutan suko. Katanya itu nama pemberian orang tuaku. Jadi aku adalah Suko. Orang memanggilku dengan sebutan itu. Jika ada yang memanggilku Hudan, tentu aku tak mau. he.he.. jadi entah sejak kapan, aku merasa bahwa aku adalah suko, bukan Hudan. Inilah ego. ego manusia. Aku adalah aku, sedang yang lain adalah kamu.

Aku mempunyai mata. Mataku sehat, berfungsi untuk melihat. Segala yang aku lihat, aku rekam dalam pikiranku. Puisi itu misalnya. Aku melihatnya, membacanya, dan merekamnya. Meskipun kemudian sudah dihapus, namun puisi itu masih utuh. Utuh dalam pikiranku. Jadi rekaman dan barangnya, dua hal yang terpisah. Mata sungguh berjasa. lalu hati? Hati juga berjasa. Kaki? Kaki juga. Kaki pernah membawaku ke jakarta, mata menunjukkan kepadaku itulah bentuk jakarta. Kini aku tidak berada di jakarta. namun Mata hatiku masih bisa melihatnya, pikiranku mampu membentuk jakarta. Dalam diriku.

Jakarta? EGP..apalah itu, terserah kamu.đŸ™‚

  1. 7 Juli 2011 pukul 5:32 pm

    hehe…
    menarik sekali..

  2. 13 Juli 2011 pukul 5:54 pm

    wah, ternyata memori manusia meski wadahnya tak lebih sebesar batok kelapa, mampu berimajinasi tempat2 yang jauh dan di luar jangkauan mata telanjang, pak. itulah sebabnya banyak lahir karya sastra besar, meski sang pengarang sendiri tdk mengalaminya scr langsung.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: