Beranda > cerpen, guru, motivasi, Uncategorized > Pemuda Pemecah Batu

Pemuda Pemecah Batu

Pada jaman dahulu kala, ada sebuah desa yang terletak di pinggir hutan dekat sungai yang lebar. Desa itu amat damai, makmur, warganya hidup rukun dan damai. Para orang lelaki tua menggarap sawah, para ibu memasak di rumah. Pemudanya? yah, para pemuda di desa itu sangat rajin mengerjakan pekerjaan mereka. Apa ekerjaannya? Memecah batu. Ya, setiap hari para pemuda itu bersenjatakan sebuah palu godam yang berukuran besar, memecah batu di peinggiran sungai dekat desa mereka. Para pemuda di desa itu terkenal kuat. Batubatu yang ada di hantamnya dengan sekali pukul, hancur berkepingkeping.

Batu hitam. Ya, batu hitam yang berukuran segedhe gajah sumaterapun, mereka pukul sekali saja akan segera terbelah. Minimal retak-retak amplop. Entah dari mana mereka mendapatkan ilmu kadigjayaan, tak ada yang pernah mau menceritakan akan hal itu.bahkan wartawan yang berusaha meliputnya, tak kunjung berhasil mendapaka beritaya. para pemuda dan warga desa, sungguh pandai menyimpan rahasia.

Dan pada suatu hari, telah diceritakan kepadaku, para pemuda itu hanya duduk bermalasmalasan di pinggir sungai. Mereka hanya dudukduduk sambil ngobrol, bercerita ini dan itu, menghisap rokok, liyerliyer tiduran, ngopi, main internet.🙂 Tak juga mereka mengerjakan pekerjaannya memecah batu seperti harihari sebelumnya. Pokoknya para pemuda itu hanya bermalasmalasan seharian di pinggir kali.

Lalu lewatlah seorang kakek tua bongkok, berjalan dengan tongkat ranting kayu jati sebagai penopangnya. Rambutnya sudah memutih semua, namun wajahnya bercahaya. wuih…Kakek ini kelihatannya sakti tiada duanya. Maka demi melihat para pemuda menganggur dan bermalasmalasan, sang Kakek marah besar.

“HAI!” Bentaknya kepada para pemuda. “mau jadi apa kalian, hah? Mau jadi apa Indonesia ini kalau pemudanya suka bermalasmalasan, hanya bisa SMSan, Internetan, Fesbukan, twetteran, YMan? Hah? Mau kau jadikan apa negara kita ini Nak?” sang Kakek menyemprot para pemuda sejadijadinya.

“Kek,” seorang pemuda menjawab pelan. “Bukan berarti kami enggan bekerja dan lebih suka bermalasmalasan Kek. Tapi mau bagaimana lagi? Mau cari pekerjaan lain di negara kita ini susahnya minta ampyyuunn Kek. Apalagi kami tak punya ijazah. Mau mengerjakan pekerjaan seperti biasanya, ya memecah batubatu ini, kami sudah tak berdaya.”

“Tak berdaya bagaimana, hah?!” sang Kakek tetap saja marah.

“Biasanya batu yang berukuran segedhe gajah sumanterah kami pukul sekali saja hancur berkepingkeping. namun kali ini, hingga pukulan ke-9 batu itu masih bergeming. tetap tegar di tempatnya, bahkan tak ada tandatanda keretakan sedikitpun. Ilmu kami sudah tak mempan lagi Kek,” sang pemuda memberikan penjelasan.

“Mana palumu?” sang kakek bertanya seraya secepat kilat merebut palu yang ada di tangan pemuda itu.

Luar biasa. Meski bongkok dan penuh uban, kakek itu mampu mengambil dan mengayuknan palu yang beratnya tak kurang dari 10 Kg itu. Lalu dipukullah batu di hadapannya yang berukuran sebesar gajah sumatera itu. Dan Pyaarrr… batu itu hancur berkepingkeping.

Para pemuda sertamerta kaget, syok. Mulut menganga, kaki menggigil, tangan gemeratan, rambut mereka tibatiba saja jabrik semua.

“Kek, sakti sekali Panjenengan ini Kek. gerangan ilmu apa yang kakek miliki? tolong ajari kami kek, please..please kakek…!” sang pemuda memohon sambil menyembahnyembah.

“Baiklah,” jawab kakek sambil tersenyum. “Aku akan ajarkan ilu kakek kepada kalian. Tak butuh waktu lama untuk mempelajarinya, namun butuh waktu panjang ubtuk kalian mampu memahami dan mengamalkannya.”

“Ilmu kakek bernama “sabar, jangan pernah putus asa.”

“Maksudnya?” tanya pemuda.

“Jika kalian tadi mau sedikit sabar dan tidak segera putus asa, maka kalian akan mampu memecah batu itu,” sang kakek medhar sabda.

“Lebih jelasnya Kek?” kurang paham juga.

“Kalian sudah memukul 9 kali kan? Nah, untuk mampu memecah batu itu, kalian hanya cukup menghantamnya sekali lagi seperti yang aku lakukan. Batu itu butuh sepuluh kali pukulan untuk bisa pecah. Jadi aku hanya meneruskan pekerjaan kalian, yang kalian tinggal padahal tinggal sejengkal.”

“Ooo…” Para pemuda melongo, mwlompong mulutnya bersamasama.

Kawan, mari, jangan sekalikali berputus asa, karena mungkin selangkah lagi sukses ada di tangan kita. jangan pernah berhenti di tengah jalan, atau anda akan menyesal karena sukses Anda dirampungkan orang lain.

salam,
SR

  1. 25 Agustus 2011 pukul 8:47 am

    ini tepat seperti yang baru aku baca di artikel tentang Lady Gaga.
    “number 9 means innovation doesn’t stop until you deliver the promise to the customer.”
    – angka 9 berarti inovasi belum berhenti sampai anda berhasil memberikan janji kepada pelanggan.
    sumber: http://danielwrasmus.wordpress.com/2011/08/15/the-tensten-lessons-you-can-learn-about-innovation-by-studying-lady-gaga-2/

    dan aku juga pernah denger pepatah, kenapa orang seringkali mencoba satu metode hanya satu kali, padahal mungkin yang kedua atau ketiga kalinya bisa berhasil.

    nice post gan, dan salam kenal!🙂

    • 27 Agustus 2011 pukul 5:32 pm

      Terima kasih kunjungannya Pak Ilham, salam kenal kembali. saya sudah ninggalkan jejak di lapak panjenengan. informasinya, juga saya sangat berterimakasih. bermanfaat sekali.

      salam.

  2. 3 September 2011 pukul 12:35 pm

    salam perkenalan dari malaysia.

  3. 29 April 2012 pukul 8:07 pm

    komen dulu, baru baca🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: