Beranda > cerpen, Uncategorized > Sadistis (Pukul Kepalanya dengan Kayu!)

Sadistis (Pukul Kepalanya dengan Kayu!)

Aku masih dalam perjalan menuju rumahnya,ketika tibatiba ia menelpunku. suaranya jelas terdengar di telingaku. “Bagaimana nih cara membunuhnya?”. karena sedang d dalam bus, tentu aku takut menjawabnya. SMS saja apa ya? tapi jelas,suara d seberang butuh solusi kilat khusus.

“Pukul saja kepalanya pakai kayu.” sengaja kukeraskan suaraku dan kupasang peran antagonis.

“Buggh!” kudengar jelas suara pukulan kayu menghantam sesuatu.

“Kok belum mati juga, gimana nih?” kewalahan.

“Pukul bagian belakang, jangan bagian ubunubun, disitu pusat kesaktiannya,” Kupertegas, kuperkeras suaraku.

Sontak saja orangorang di bus, tentu saja para penumpang, mengarahkan pandangannya kepadaku. Mereka melongo, menahan napas. ada yang ketakutan, ada pula yang wajahnya tibatiba berubah melengkung, membentuk sebuah tanda. Tanda tanya tentunya. Dan aku mengambil sikap acuh, tak peduli. Menurut pengalamanku selama ini, orangorang di negeriku tak akan berani berspekulasi mengambil tindakan terhadap sebuah aksi kekerasan. Nyali mereka sangat mini. mereka akan selalu memilih selamat, ketimbang bertindak jadi pahlawan dan akhirya kewalahan. dan benar, tak ada seorangpun yang berani menggangguku. Bahkan penumpang yang tadi di sebelahku, dengan suatu alasan, tibatiba saja berpindah dari tempat duduknya. Dan kembali aku tak peduli.

“Sudah, sudah mati,” konfirmasi dari seberang.

“Segera ambil pisau, belah perutnya. Keluarkan dan buang isi perutnya! Kalau perlu, kubur di belakang rumah!” perintahku tetap dalam suara tegas dan keras. “Sudah belum?” tanyaku.

“Sudah, sudah kukeluarkan isi perutnya. Beres.”

“Ya, jangan lupa. Sisakan hati dan paruparunya, biar kumakan sebagai jamu!”

Mas ‘to, orang yang menelepun dari seberang, adalah seorang polisi. Tapi, meski polisi, naluri untuk membunuh yang dimilikinya sangat kecil. Sebenarnya aku ingin juga ikut membantai bersamanya beramairamai. Karena sudah mengejarnya berbulanbulan semenjak dia lepas dari penjara dan baru bisa menangkapnya, mungkin mas ‘to tak sabar menunggu kedatanganku. Buruan itu luar biasa limpat. pandai menyembunyikan diri, limpat sekali berlari. Kemampuannya menyamar sebentuk tanah menyebabkan aku dan Mas ‘to sering kehilangan jejak. Pernah suatu waktu aku melihatnya keluar dari persembunyian. Segera Mas ‘To kokang senapan dan mengarahkan tepat di kepalanya. “Doorrr.” Suara senapan meledak segera. Dan tak kena. buruan itu lari, hilang di balik dedaunan. Kembali tak kelihatan. Kata seorang teman, sesungguhnya kepala yang diincar Mas To adalah hanya bayangannya, dan bukan kepala yang sesungguhnya.

Pernah juga, seorang teman berkesempatan menembak tepat pada kepalanya. Tapi peluru itu hanya sedikit melukainya, tak mampu menembus batok kepalanya. Menggemaskan, sekaligus membuatku penasaran.

Dan kali ini, atas inisiatip seorang teman, mas ‘to memancing buruan itu keluar. Tak perlu menggunakan hitungan yang njelimet sebagaimana dino pitu pasaran limo. Cukup dengan mengetahui kapan dia kelaparan dan menggunakan umpan yang tepat. Ternyata saran itu berhasil.

***

Begitu sampai rumah, aku segera menuju ke TKP (Tempat Kejadian Pembantaian).

“Gimana Mas, Sudah dimutilasi belum,? tanyaku pada Mas ‘To

“Belum, baru saja kuasah pisau dapur,” jawab mas ‘To.

“Sinih, mana pisaunya? Biar aku yang memutilasinya.” Pintaku segera.

“Nih, sudah tajam. Segera goreng setelah itu ya?!” Perintah Mas ‘To, yang segera menyiapkan perapian.

“Sipp,” jawabku singkat.

Dan malam itupun, aku bersama Mas ‘To bergembira ria. menikmati makan malam hasil pancingan tadi siang, yang telah kuburu sekian lama dan baru berhasil tadi siang di bawah jembatan. seekor lele dumbo seukuran betis orang dewasa. Batok kepalanya begitu keras, benar saja peluru senapan angin tak mampu menembusnya. Benar juga kata temanku, ternyata ketika sesuatu berada di dalam air, maka yang kita lihat adalah cuma bayangannya. sungai itu begitu kotor dengan sampah daun, tempat yang strategis untuk persembunyiannya.

“KUPUKUL KEPALANYA DENGAN KAYU, SEKERAS KERASNYA TADI,” kata Mas ‘To, yang kemudian tertyawa lebar.

Ha…ha…ha…ha…..

Kena kau!..

Kategori:cerpen, Uncategorized
  1. 15 Juni 2011 pukul 10:53 am

    nipu..1

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: