Beranda > cerpen, Uncategorized > MERPATIKU

MERPATIKU

Aku punya sepasang merpati baru. Beberapa hari yang lalu, aku membelinya dari seorang peternak merpati (tentunya). Kini sepasang merpatiku sudah mengerami telurnya yang dua butir, mungkin seminggu lagi telurtelur itu akan menetas. Ah, senangnya hatiku karena merpatiku akan segera bertambah 2 ekor.

Aku sangat sayang kepada sepasang merpatiku. Tiap pagi sebelum berangkat ke sawah, aku tak pernah lupa memberinya segenggam jagung dan mengisi kaleng bekas roti yang kusediakan dengan air. Air, seringkali merpatiku berkubang di sana. Membasahi kedua sayapnya, minum secukupnya, lalu berjemur di atas genteng rumahku. Akur sekali kedua merpatiku itu. Bahumembahu, bergantian mengerami telur mereka. Jika yang betina sedang mengeram, maka merpati jantanku mencarikan rantingranting kecil dan dedaunan untuk merampungkan susuhnya agar semakin hangat.

Di balik semua itu, aku juga merasa sangat sedih jika teringat kembali pada seekor merpati yang dimiliki peternak itu. Di antara banyak merpati, ada seekor merpati betina yang tak punya pasangan. Sungguh indah merpati betina itu, halus bulunya dan bentuk kepala serta matanya tajam bagaikan elang. “Indukan yang bagus,” pikirku. Aku sempat menanyakan harganya, namun oleh si peternak tak diperkenankannya aku membelinya. “Kasihan dia,” katanya.

Selidik punya selidik, ternyata mepati betina yang sangat bagus itu tak punya pasangan. Sebenarnya aku bermaksud membelinya, dan menjodohkannya dengan pejantan yang juga tangguh. Namun sayang, si peternak tetap tak memperkenankannya. Apa sebab? begini ceritanya:

Awalnya, merpati itu dibeli oleh si peternak dari seorang penjual di pasar, lengkap dengan pasangannya. Sepasang merpati yang bagus. Harganya Rp. 800.000,- sepasang. Sangat menyenangkan. Seminggu di tempat peternak, merpati betina langsung bertelur. Dibiarkannya sepasang itu mengeraminya, demi mendapatkan keturunannya. Delapan hari semenjak bertelur, sepasang merpati bergantian mengerami telurnya. Naas, kasihan merpati itu. Saat merpati jantan asyik mencari makan, seekor kucing garong menerkamnya. Tamatlah riwayat merpati jantan itu. Akibatnya, merpati betina bersedih. Kedua telor yang dieraminya pun tak jadi menetas.

Segera setelah kejadian itu, si peternak mencarikan pasangan untuknya. Tentunya, dengan merpati jantan yang tak kalah gagah. Seekor merpati seharga Rp. 500.000,- dibelinya dari pasar hewan. Cukup lama untuk bisa menjodohkan keduanya. Dikurung beberapa minggu, baru bisa menjadi pasangan. Peternak itu senang, karena akhirnya merpati kesayangannya kembali bertelur. Dua butir, putih sekali. Sepasang merpati itupun kembali bahumembahu mengeraminya. Bergantian mereka menjaga kehangatan telurnya. Demi menjaga keselamatan sepasang merpati kesayangannya, peternak itu tak membiarkannya terbang bebas. Keduanya dikurung dalam kandang berukuran 3 x 3 meter. Lagilagi, memang nasip tak ada yang bisa menebak. Saat peternak keluar rumah, merpati jantannya dicuri entah siapa. Maka sang merpati betina kembali menjanda. Kasihan sekali dia. Telur yang dieraminya, rusak untuk yang kedua kalinya.

Tak putus asa, si peternak kembali mencarikan jodoh untuknya. Kini dibelikannya merpati jambul yang gagah luar biasa. Bulunya hitam mengkilat, bak burung gagak saja rasanya. Dikurung keduanya dalam satu sangkar, entah berapa minggu lamanya. Memang sulit untuk menjodohkan merpati yang bukan pasangannya. Namun peternak, juga punya mantramantra. (he.he..ngarang.com). Si betina kembali menghasilkan telornya. Maka, sama seperti yang sebelumnya, sepasang merpati kembali bekerja sama mengerami telurnya. Bergantian tentunya. Lagilagi nasib merpati betina itu memang berat nian rasanya. Pasangannya, ya si merpati hitam dengan jambul di kepalanya itu, hilang entah kemana. Sepertinya, dia tergoda dengan kemolekan betina sebelah desa yang umurnya lebih muda.

Maka sang betina matimatian sendirian, mengerami telurnya. Siang dan malam tak beranjak dari tempatnya, demi menjaga kehangatan kedua telurnya. Ini sudah yang ketiga, dia tak mau kembali gagal. Apa lacur, kehangatan tubuhnya tak mampu dipertahankan kestabilannya karena jarang makan.
Mengetahui kesedihan hati sang merpati betina, si peternakpun mengambil telur itu dan dititipkannya ke merpati tetangga yang telurnya dicuri tikus. Kini, si betina kembali dicarikan pasangan.

Berbulanbulan merpati itu dikurung bersama pasangannya, namun tak juga menghasilkan telurnya. Diganti pasangan, hasilnya sama saja. Merpati betina tak mau lagi diberi pasangan oleh pemiliknya. Maka sejak itulah, merpati betina yang cantik dan mahal harganya itu dibiarkannya bebas mencari sendiri pasangan yang diinginkannya. Tak ada yang menarik hatinya. Merpati betina itu sudah menutup hatinya, karena berkalikali gagal membangun rumahtangganya. Kini, dia memilih hidup menjanda, meski banyak merpati jantan yang naksir dia. Memang merpati itu tak lagi berduka, namun entah, siapa yang tahu akan kedalaman hatinya. Kini, dia suka membaur bersama banyak pasangan merpati lainnya.

Oh, merpati, kasihan sekali dikau. Aku berkehendak membelimu, namun pemilikmu tak mengijinkanku untuk memilikimu.

Semoga sepasang merpatiku yang sedang mengerami kedua telurnya, tak bernasip sama sepertimu.
Amiinn..

Kategori:cerpen, Uncategorized
  1. Budi
    2 Juli 2011 pukul 12:49 am

    Kasihan sekali merpati itu,kadang memang dia harus sendiri.meskipun kita tlah berusa untuk mendapatkan keturunannya,namun apa daya ALLAH tlah mengatur dan yang memegang ubun-ubunnya.mudah-mudah ALLAH menggantinya dengan yang lebih baik lagi.amin ya robbal alamin

  2. 15 November 2013 pukul 8:32 am

    kisah yang mengharukan

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: