Beranda > Uncategorized > Uang yang Hilang

Uang yang Hilang

Sahabat,
telah diceritakan kepadaku tentang seorang anak kecil yang menangis sambil mondarmandir, berjalan bolakbalik di sepanjang jalan dekat rumahnya. Banyak orang yang sebenarnya melihat kelakuan anak itu, tapi mereka cuek saja. tak peduli, tak ada yang ingin tahu apa sebab anak itu menangis. Setelah sekian lama, barulah seorang ibu yang baru pulang dari kantor (nampakya) mendekati dan bertanya pada anak itu:”Kenapa menangis Dhik, ada apa?” tanya ibu itu.
“hu..hu..hu…, hua..hua..hua…,” semakin keras anak itu menangis.
“Ada apa Dhik, barangkali ibu bisa bantu?” si ibu cukup ramah dan sabar.
“Uang saya hilang Bu…,” si anak akhirnya buka mulut.
“O…gitu, berapa uang yang hilang?” berniat baik untuk mengganti.
“Sepuluh ribu…..huaaa…,” menangis lagi, bertambah keras.
“Sudah, cup.cup.cupp…nih, uangnya saya ganti. Sepuluh ribu, saya tambahi seribu wis..,” si ibu berharap anak itu diam dan pulang segera. Namun, bukannya mengucapkan rasa terima kasih, setelah menerima uang Rp. 11.000,- dari ibu itu si anak kembali menangis. Maka si ibu-pun heran dan bertanya;
“Lho, kok masih nangis? kan sudah ibu ganti, bahkan lebih.”
“Iya Bu, seharusnya uang saya sekarang kan Rp. 21.000,- tapi hilang yang Rp. 10.000,- tadi…hua…hua…”

Si ibu pun tanpa komentar langsung meninggalkan anak itu.

Sahabat,
Pernahkan anda mengalami hal yang terjadi seperti si anak kecil tadi? Kita merasa kehilangan sesuatu, lalu Allah telah menggantinya dengan yang lebih banyak, namun kita tetap menyesalkan apa yang hilang sebelumnya.
Ketahuilah Sobat, bahwa sesungguhnya, yang hilang itu bukan lagi hak kita. Islam melarang kaumnya untuk menyesali takdir.

Contoh kasus:
Seorang pemuda yang telah beberapa tahun magang di sebuah perusahaan, terpaksa pindah ke daerah lain karena mengikuti kepindahan orang tua dan keluarganya. Mulamula memang dia yang mengambil keputusan untuk ikiut pindah bersama orang tuanya. Namun setelah berjalannya waktu, si pemuda senantiasa mengungkit keputusan orang tuanya yang mengajak pindah sehingga dirinya gagal menjadi assisten direktur seperti yang pernah dijanjikan perusahaannya.

Si pemuda tidak menyadari, bahwa usaha yang dikelola orangtuanya telah berkembang pesat setelah kepindahan itu. Dengan tak adanya rasa syukur, si pemuda yang sebenarnya telah disiapkan untuk menjadi dirut di perusahaan orangtuanya itu, selalu saja menggerutu, menyesali nasib yang disangkanya buruk. Padahal Allah telah menggantinya dengan yang jauh lebih baik dan lebih banyak.

Sahabat,
mari belajar kembali, untuk pandai bersyukur. :))

Kategori:Uncategorized
  1. 24 Mei 2011 pukul 5:30 pm

    tulisan yang mencerahkan, pak. bersyukur seringkali dilupakan orang ketika sedang berada daam puncak kesenangan. mudah2an kita bisa bersikap qanaah atas anugerah yang Tuhan berikan.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: