Beranda > cerpen, guru, motivasi, Uncategorized > MENUNGGU DATANGNYA BATAS PENANTIAN

MENUNGGU DATANGNYA BATAS PENANTIAN

Malam ini aku merasa begitu sepi. Iingin sekali aku segera terbuai mimpi, tapi mata ini tak bisa diajak bekerja sama. Seakan ada yang mengganjal, hingga sulit untuk dipejamkan.

Kulihat jam di pergelangan tangan, ternyata telah menunjuk pukul 24.00 WIB. Hening tanpa suara manusia ataupun deru mesin bekerja, hingga terdengar jelas detak jarum jam dinding dari kamar kakaku, kak Farida.

Aku berdiri, kulangkahkan kaki menuju jendela kamar dan sedikit kubuka tirai penutupnya. Terlihat olehku cahaya temaram lampu lima watt yang menerangi gapura rumah. Tak ada makhluk hidup berkeliaran, kecuali kalong-kalong yang suka mencuri buah tetangga dan burung malam yang kelaparan mencari mangsa. Rembulan di atas sana tampak sedih karena terhalang awan yang nakal. Kupuji Tuhan, yang telah menciptakan alam dan mengaturnya dengan sempurna.

Agak lama aku berdiri. Sayup-sayup kudengar kokok ayam jantan dari kejauhan, pertanda malam telah lewat. Aku Siswi sekolah Islam, tak percaya kata orang jika ada ayam jantan berkokok tengah malam, pertanda ada perawan hamil. Termenung aku sendirian. Pikiranku melayang-layang, entah kemana. Perasaanku sungguh tak karuan. Padahal badanku capek semua.seharian tadi aku muter-muter kota jogja dan magelang. aku tak tahu, apa yang membuatku tak bisa tidur.

“Atau…inikah yang dinamakan sedang…ah, nggak. Nggak mungkin. Aku masih terlalu kecil, baru saja lulus SMP. Aku masih ingin sekolah, ingin juga kuliah. Aku harus pintar, aku harus sukses. Tidak bisa tidak. Aku harus sekolah, kuliah, dan sukses. harus!”

“Tapi….ada apa dengan perasaanku ini ya?” kucoba telusuri kisah perjalananku seharian.

***

Tidak seperti hari-hari biasanya, pagi tadi aku bangun agak gasik. Jam empat pagi. Ya. Setelah sholat, aku mandi, sarapan, lalu diantar bapak ke sekolah. Jam setengah tujuh aku sudah kumpul sama teman-teman di sekolah. Seperti biasa, guru yang satu itu suka mengatur dan mengabsen siswa. Tak ketinggalan, pagi tadipun, sebelum berangkat ke magelang, beliau mengatur siswa dan mengabsennya. Lalu meminta Pak Guru yang satunya untuk memimpin doa. Kurang lebih jam tujuh kami berangkat menuju kota magelang. Hatiku betapa senang. Lama aku tak keluar rumah, kini ada kesempatan jalan-jalan. Pukul 09.30. WIB kami sampai di Kota Magelang. Bus langsung meluncur ke obyek wisata Taman Kyai Langgeng. Aku sangat gembira. Kulupakan semuanya, yang penting saat ini aku sangat senang. Kulepas semua kepenatan pikiran selama aku sekolah. Aku ingin kembali fress, segar dan ceria. Bersama teman-teman, aku bergembira ria di Taman Kyai Langgeng.

Jam 11.15 WIB. Kudengar melengking-lengking suara perempuan yang mengumumkan lewat pengeras suara, mengharap rombongan SLTPku segera kumpul di tempat parkir.

“Kepada seluruh rombongan SLTP…., harap segera kumpul di lokasi parkir, karena perjalanan akan segera dilanjutkan. Terima kasih.” Demikian suara itu terulang. Cepat-cepat kutarik tangan ifah (namanya kholifatun, agar keren kusebut ifah, bukan atun) menuju pintu keluar. Aku takut kalau ketinggalan Bus. Sampai di dalam Bus, aku kaget dan tercenung. Pagi tadi aku tak melihatnya di sekolah. Apalagi berangkat bersama kami. Tapi kenapa tiba-tiba ada di sini?

“Hayo ngalamun,” suara ifah tiba-tiba mengagetkan aku.

“Ah…e..e-enggak kok,” aku mengelak.

“Iya juga gak papa kok…,” seloroh ria menggangguku.

Aku terdiam, dan sebenarnya aku merasa senang dengan kenakalan teman-temanku tadi. Berarti mereka memperhatikan aku.

Diam-diam kupandangi terus guruku yang satu ini. Wajahnya ganteng, rambutnya lurus mengkilat, orangnya supel, kulitnya bersih, masih sangat muda, dan banyak lagi yang membuatku kagum padanya.

“Nen, ga boleh!” suara Ria (musriati) lagi-lagi mengagetkanku.

Tiba-tiba bus berjalan. Pelan, meninggalkan kota magelang menuju kota Jogjakarta. Sudah agak lupa apa yang kuperbincangkan selam perjalanan dari magelang sampai kota jogja. Tak tahu aku, kenapa rasanya lama sekali. Atau mungkin saja akan lain jika..ah, ga boleh. Dia tetap guruku.

***

Jam 14.05 WIB rombonganku tiba di rumah pak guruku itu. Aku kagum. Meski berukuran besar, tapi tetap kelihatan sederhana dan bersahaja. Tinggal di dekat pesawahan, dalam suasana pedesaan yang damai, hawa yang sejuk. Andaikan aku…ah. tidak. Aku tak boleh ngelantur. Dia tetap guruku.

Setelah acara makan-makan selesai, perjalananpun dilanjutkan. Kali ini menuju ke pantai parang tritis. Sekali lagi, pak guruku itu masuk ke bis yang aku tumpangi. Aku senang, tercenung, dan bingung. Apa lagi setelah pak guruku itu menuju ke tempat dudukku. Tak kusangka, beliau berkenan duduk bersebelahan denganku.

“Ko, foto Ko!” teriak ifah pada eko, memintanya mengambil gambarku bersama pak guruku itu.

“OK deh,” eko menyanggupi.

Aku tak bisa berbuat apa-apa,ketika pak guruku bergaya memelukku untuk difoto. Perasaanku tiba-tiba hilang, entah kemana. Sekali, dua kali, dan entah berapa kali aku foto bareng pak guruku itu. Tapi, pak guru. Ya, beliau tetap pak guruku.

“Prit…prittttttkiri-kiri,” terdengar suara sempritan dan teriakan petugas parkir. Kulongok ke depan, terlihat petugas parkir mengacung-acungkan jari tangannya meminta bus belok ke kiri. Tapi bus tetap saja berjalan lurus. Mungkin cari tempat parkir yang agak longgar, dekat pantai.

Sampai di tempat parkir, semua temanku berhamburan keluar. Mereka berlarian menuju pantai. Sedang aku masih terdiam.

“Ada apa Nen, kok ga turun?’ tanya guruku itu.

“Anu Pak, nunggu yang di Bus 2,” Belum sempat aku menjawab, kholifatun asal jawab.

“Siapa to Tun?” tanya Pak Guruku.

“Ah.., nggak ding Pak,” aku memotongnya cepat.

“Ya sudah, ayo jalan-jalan sama aku saja?!” ajak pak guruku.

“Nanti sajalah Pak,” jawabku singkat.

Kulihat dan kubiarkan pak guruku turun. Di bawah, pak guru yang satu sudah menunggunya. Mereka berjalan beriringan, bak kakak beradik saja. Kedamaian tampak terpancar dari wajah mereka. Andaikan saja….ah. tidak. Beliau tetap guruku.

Aku keluar dari Bus, dan terbengong sendirian. Malas menuju pantai. Tiba-tiba saja males kumpul sama teman-teman. Aku ingin sendirian, ingin ketenangan. Aku menginginkan kedamaian. Di hati ini.

Tak ada toleransi. Waktu tetap berjan sesuai iramanya, seperti biasa. Satu jam tetap 60 menit. Satu menit tetap 60 sekon. Hingga waktu menunjuk pukul 17.00 WIB. Kulihat teman-teman mulai berdatangan, menuju dan masuk bus masing-masing. lagi-lagi, Pak Guru yang satunya itu mengabsen murid-muridnya. Setelah lengkap, pak sopir menginjak pedal gas. Kontan saja, bus melaju cepat, menuju jantung kota Jogjakarta. Malioboro adalah tujuan utama.

Kali ini Pak Guruku tak duduk bersamaku. Beliau duduk bersama mbak Iyan (namanya Rubianti, biar keren kusebut iyan, bukan Giyo’). Aku jenuh. Dan tertidur dengan sendirinya karena entah apa.

“Kret….Ciitttt!!!” terdengar suara rem parkir ditarik Pak Sopir. Ternyata terlalu lelap tidurku, hingga tahu-tahu Bus sudah diparkir disamping benteng Van De Burg, sebelah selatan pasar Shooping. persis sebelah tenggara malioboro.

lagi-lagi Pak Guruku itu direbut oleh Pak Guru yang satu itu. Lagi-lagi pula, mereka berjalan seolah sebagai kakak beradik saja. Aku cemburu. Aku dongkol. Tapi bagaimana lagi? Akhirnya, aku berjalan sama teman-teman saja.

Kunikmati kedamaian suasana kota Jogja di Malioboro. Meski berjubel orang ada di sana, kesan kedamaian tetap terpancar. Sarat dengan ketenangan. Tak salah jika kota Jogja dijuluki kota budaya, kota pelajar.

Jam 21.00 Semua temanku sudah kumpul di Bus masing-masing. Kali ini aku nggak mau kalah. Aku harus duduk bersebelahan dengan pak guruku itu. Tak kupedulikan atun, tak peduli giyo, tak peduli Mus, pokoknya semuanya. Aku harus duduk bareng Beliau. Pak Guruku yang kukagumi.

Pak sopir memutar kunci kontak, dan sesaat kemudian Bus melaju cepat menuju kota Semarang. Aku senang, aku bahagia. Kali ini aku berhasil. Ya, aku berhasil duduk bersebelahan dengan Pak Guruku itu. Sungguh, beliau pandai bercerita, baik hatinya.

“Mau melanjutkan sekolah di mana Nen?” beliau membuka percakapan.

“Belum tahu Pak”, jawabku singkat.

“Saudaranya berapa Nen?” lanjut beliau dengan logat jogjanya.

“Tiga Pak, satu laki-laki kuliah di USM dan satu Perempuan di IKIP PGRI”, jawabku menerangkan.

“Klonthangg.ggg…..Prang!” tiba-tiba terdengar suara piring blek jatuh. Aku kaget.

“cit…ciiit…ciiit…” menyusul suara tikus menjerit-jerit kesakitan.

“Astaghfirullohal’ngadzim….!” istighfar aku, untuk menghilangkan rasa kaget dan sedikit dheg-dhegan. Aku sadar, baru saja terbuai dalam lamunan panjang. Kulihat jam di pergelangan tangan, sudah menunjuk pukul 04.00 WIB.

“Alloohu Akbar. Alloohu Akbar”, sayup kudengar suara adzan awal. Waktu hampir masuk subuh.

“Tok-Tok-Tok,” suara pintu diketok

“Nen…bangun, subuh!”, Bapak membangunkan aku.

Buru-buru aku merapikan tempat tidur, untuk segera bersiap sholat subuh. Seperti biasa, tanpa kujawab pun bapak tahu kalau aku sebenarnya sudah bangun.

Tekadku, pagi ini aku akan berangkat lebih awal dari biasanya. Aku ingin segera ketemu Pak Guruku itu.

Tapi…Beliau kan.., ah. Entahlah. Aku tak tahu sampai kapan harus menunggu. Menunggu datangnya batas penantian.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: