Beranda > cerpen, fisika, guru, motivasi, puisi, sains, Uncategorized > Ketika Guru kena tilang Pak Pol.

Ketika Guru kena tilang Pak Pol.

Siang tadi, 15 maret 2011, aku berangkat dari Kota Semarang untuk menunaikan tugas mengajar di kabupaten wonosobo, tepatnya di Kecamatan Wadaslintang. Seperti biasa, perjalanan yang jauhnya tak kurang dari 150 km itu aku tempuh dengan sepeda motor.

Tepat sebelum masuk kota ambarawa, aku ketemu operasi lalulintas. Tenang, karena surat suratku lengkap. Helm juga berstandar (SNI). Aneh. Aku tidak diberhentikan sebagaimana pengendara yang lain. Besar kemungkinan, aku tidak diberhentikan karena lengkap dengan jaket, helm, sarungtangan, masker, dan lainlain.

Masuk kabupaten temanggung, tepatnya di pringsurat, aku ketemu lagi dengan operasi lalulintas. lagilagi aku tidak diberhentikan. Polisi hanya mengangguk hormat dan tersenyum saja, lalu membiarkan aku meneruskan perjalanan. Kali ini aku berpikir, mungkin tampangku memang tak layak jadi penjahat, atau setidaknya pelanggar tatatertip, sehingga pak pol. pun enggan memeriksa suratsuratku.

Nah. Disepanjang  jalan, selepas aku ketemu dua kali operasi lalin, aku teringat akan kejadian yang pernah menimpa guru dan kakakku.

Guruku pernah bercerita, suatu saat beliau melanggar lampu lalulintas karena tergesagesa ingin segera sampai rumahsakit. Naas, saat itu ada polisi yang berjaga di pos. Padahal biasanya kosong. Maka guruku pun kena semprit. Setelah ditanya ini itu, polisi itu tidak jadi memberikan kartu tilang yang sudah ditulis. Namun kejadian itu tak kan terlupakan, kata guruku, karena meski tidak memberikan surat tilang ataupun denda, pak polisi itu telah menghantam dengan kuat ulu hati pak guruku hingga kelenger. “Pak Guru,” Demikian polisi itu memulai ceramahnya. “Kalau Panjenengan saja yang seorang pendidik sudah berani melanggar tata tertib yang seharusnya dipatuhi, lalu bagaimana dengan muridmurid Panjenengan? Panjenengan pasti juga tahu, bahwa muridmurid itu adalah generasi muda penerus harapan bangsa. Tolonglah Bapak, meski tak ada petugas, Panjenengan kasih contoh yang baik. Saya menaruh harapan besar kepada para guru agar bisa turut menjaga ketertiban dalam berlalulintas. Tapi kalau seperti ini kejadiannnya, terus apa yang musti saya harapkan? Apa yang musti saya lakukan? Baik, Bapak Guru yang baik, mungkin Panjenengan sedang tergesagesa karena ingin segera sampai ke rumah sakit. Namun demikian, Panjenengan pasti juga tahu, yang namanya melanggar tatatertib tetap tidak baik. Banyak kejadian buruk yang mungkin terjadi. Contoh gampang, seandainya tadi Panjenengan tidak melanggar Lampu lalu lintas, tentu tak perlu berurusan dengan saya dan bahkan mungkin sudah sampai di Rumah Sakit. Pesan saya, Bapak guru yang baik, boleh cepat asal tidak tergesagesa. Sekarang, silahkan lanjutkan perjalanan semoga puteranya lekas sembuh. ” Berkata demikian, Pak Polisi menyerahkan kembali suratsurat bapak Guruku dan menjabat tagannya. “Hatihati dalam berkendara, bapak Guru…,” itu pesan terakhir Pak Pol tersebut.

Guruku hanya bisa diam, tertunduk malu, sekaligus membenarkan semua katakata Pak Polisi tadi.

Kejadian kedua yang aku ingat di perjalanan tadi adalah yang menimpa kakakku. Kakakku, sebagaimana Bapak Guruku tadi, adalah orang baikbaik. Kakakku juga guru di sebuah SMP di kulonprogo. Nah, suatu saat kakakku berangkat pagi hari dengan menaiki sepeda motornya yang masih lumayan baru. Karena saking baiknya, maka ketika ada tetanggaku yang masih duduk di bangku SMA berjalan kaki sendirian berangkat sekolah kakakku menawarkan kebaikannya. Jadilah tetanggaku itu mbonceng kakakku, tanpa mengenakan helm tentunya.

Maka demikianlah. Di pinggiran kota bantul, di sebuah perempatan lampu bangjo, kakakku kena semprit seorang polisi. Lagilagi, Pak Guru melanggar tatatertib. Memboncengkan seorang penumpang yang tidak mengenakan helm. Apa yang kemudian terjadi? Pak polisi tahu bahwa oknum yang ditangkapnya adalah guru, tentu cukup dengan melihat pakain seragam yang dikenakan kakakku, lalu menanyakan suratsurat kendaraan beserta SIM. Lengkap. Pak Pol tersenyum, dan berkata pelan, “Bapak Guru yang baik, sungguh saya menghormati Panjenengan. Oleh karenanya, saya berharap Panjenengan juga menghargai tugas saya. Kita samasama bertugas dan berjuang demi bangsa ini Bapak. Oleh karenanya, mari saling menghargai. Saya tidak melarang Panjenengan berbuat baik dengan menolong tetangga yang tak punya kendaraan pribadi. Namun tolong, perhatikan juga aturan-aturan yang ada. Ini suratsuratnya, silahkan lanjutkan perjalanan. Selamat berjuang, semoga selamat sampai tujuan.” Berkata demikian, Pak polisi itu menyerahkan SIM dan STNK kepada kakak saya. Sebagaimana guruku, kakakku hanya bisa tertunduk, diam, dan menanggung malu.

maka aku, sepanjang perjalanan, terus saja berpikir. Ternyata dari sekian banyak polisi yang ada di negara kita, masih ada sebagian dari mereka yang ternyata baik hati.🙂

Tak dinyana tak disangka, kejadian yang telah menimpa Bapak Guruku dan juga kakakku tadi, siang ini menimpa juga pada diriku. Sampai ditikungan menanjak sebelum gunung kledung, aku terhambat oleh sebuah truk yang melaju pelan. Tentu, aku ambil keputusan untuk mendahuluinya via kanan truk. tak ayal, akupun melanggar marka jalan. Tibatiba pula, “Prriiiittt..!” peluit melengking, menghentikan laju kendaraanku. Aku terkesiap, namun sebentar kemudian bisa menguasai diri. “Tenang..tenang..,” demikian kata batinku.

“Selamat siang Pak,” Pak Pol hormat kepadaku, tersenyum tentu saja.

“Siang Pak,” aku menjawab pelan. entah terdengar apa tidak, aku tak peduli.

“Bisa lihat suratsuratnya Pak?”

“Bisa,” jawabku seraya cepat membuka dompet. Terpampang di dompeku, foto Om Heri yang juga Kapten Polisi di polda jateng. Aku yakin polisi muda itu melihatnya.

Singkat cerita, akupun disuruh masuk pos jaga (sebuah warung makan. he.he..). Di pos itu, aku ditanya ini itu, sambil polisi muda itu menuliskan surat tilang di lembar biru. Dia juga menjelaskan, bahwa aku melanggar marka jalan, maka terkena pasal sekian UU lalulintas. Karenanya, SIM atau STNK akan di sita dan bisa diambil dipersidangan tanggal 1 april mendatang. Aku diam saja, menuruti apa mau Pak Polisi itu. Kalaupun harus sidang tak masalah, karena memang aku salah.

“Kalau mau sidang, dendanya 50 ribu,” demikian Pak Pol muda itu memberi tahu.

“Atau, jika ingin dibantu, bisa titip di sini. Nanti uang saya streples jadi satu dengan surat tilang, dan Bapak tak perlu repot menghadiri persidangan,” Menawarkan kebaikan. “Pilih sidanf atau titip?” lanjutnya.

“Sidang saja Pak,” aku tegas menjawab. menghadapi Pak Polisi memang harus juga tegas. Aku tak mau terjadi transaksi, tawarmenawar harga.

“Baik, silahkan tandatangan,” memintaku membubuhkan tandatangan di surat tilang. Akupun manut saja.

Setelah tandatangan aku bubuhkan, polisi muda itu keluar menemui komendannya. “Tolong temui komendan di sana Pak,” perintahnya kepadaku. Lagilagi, aku manut saja.

“Bapak tahu apa kesalahannya Bapak?” Sang Komendan membuka pembicaraan.

“Iya Pak,” jawabku singkat. Polisi, sebagaimana ABRI, lebih suka yang efektif.

“Bapak seorang guru kan? Ngajar di mana Bapak?” tanya sang komendan menyelidik.

“Di Wonosobo Pak,” tetap singkat jawabanku.

“Bapak, Panjenengan laju sejauh itu. Sementara Anakistri menunggu di rumah. Apa tidak khawatir, jika terjadi apa-apa? Ada baiknya kita berhatihati Bapak, patuhi rambu lalulintas, karena itu adalah aturan. Coba, bagaimana rasanya  jika banyak siswa Bapak yang melanggar aturan sekolah?” menceramahiku, dan aku hanya diam mendengarkan.

“Bapak mengakui jika bersalah melanggar tatatertib?”

“Iya Pak, saya akui salah,” jawabku.

“Ini, SIM dan STNK saya kembalikan, silahkan lanjutkan perjalanan dengan hatihati,” seraya menyerahkan SIM dan STNK kepadaku.

“Terima kasih Pak Pol,” akupun melanjutkan perjalanan. Tak jauh dari tempat itu, kembali aku melanggar marka jalan. Terpaksa.

Dari sekian banyak guru, ternyata ada juga guru yang mbeling.

Dari sekian banyak polisi, ternyata ada juga polisi yang baik.

  1. 9 Mei 2011 pukul 7:35 am

    wah,,
    sepertinya berbeda dengan saya,
    maz, ni saya tahan STNKnya,,
    gumamKu, udah pak brp duit’?
    hahahaa..
    ini ada 20, sepertinya kebanyakan itu,,

  2. 12 Mei 2011 pukul 8:58 pm

    Terimakasih kunjungannya Mas Akhmad..
    iya, kita dan banyak lagi yanglain, seringkali ketemu Pak Pol yang berbedabeda karakternya..

  3. 15 Agustus 2011 pukul 3:10 am

    Kalo lagi musim liburan sekolah, jangan harap stnk dikembalikan tanpa surat tilang atau ‘salam tempel,,, soalnya pak polisinya butuh uang buat anaknya yg pada mau kemping,,, hehe 🙂

  4. 17 Mei 2012 pukul 3:40 am

    Kirain Anakistri tu nama seseorang. hehe.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: